Jakarta, hariandialog.co.id. Kementerian Pertanian melalui Badan
Karantina Pertanian melepas ekspor komoditas pertanian dari Jawa
Barat. Komoditas senilai Rp 33,8 miliar itu dikirim ke berbagai negara
tujuan melalui jasa pengiriman PT Pos Indonesia.
Ekspor komoditas pertanian Jawa Barat ini mengawali kerja
sama antara Kementerian Pertanian dan PT Pos Indonesia dalam proses
ekspor 473 ragam komoditas ke 180 negara. Komoditas tersebut terdiri
dari 454 jenis komoditas tumbuhan yang meliputi kopi, buah merah,
rempah-rempah, temulawak, kunyit, beras, cengkeh, tanaman hias dan
lain-lain. Ada pula 23 jenis komoditas hewan, di antaranya daging
sapi, sarang burung walet, bulu, kulit kambing, dan lainnya.
“Di masa pandemi, ekspor pertanian kita tetap berjalan dan
bertumbuh, hal ini didorong oleh program pertanian baik on-farm maupun
off-farm, serta kemudahan ekspor, salah satunya melalui jasa
pengiriman pos,” jelas Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi
Perkarantinaan, Junaidi dalam keterangan tertulis, Selasa (08-02-2022)
seperti ditulis detik.com
Junaidi menyampaikan saat ini masyarakat awam dan pelaku bisnis bisa
mendistribusikan hewan, tumbuhan dan produknya dari satu area ke area
lain melalui PT Pos Indonesia (Persero).
Ia mengulas sebagai tindak lanjut dari Pasal 1 angka 26 Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2019 yang menyatakan kantor pos menjadi salah satu
tempat pemasukan dan tempat pengeluaran barang-barang, telah
dikeluarkan Peraturan Menteri Pertanian yang menetapkan 37 unit
pelaksana teknis Karantina Pertanian yang memiliki Wilayah Kerja
(Wilker) Karantina di kantor pos milik PT Pos Indonesia di seluruh
Indonesia sebagai tempat tindakan karantina.
Junaidi menegaskan, proses karantina dilakukan sebagai upaya untuk
mencegah masuk, keluar dan tersebarnya penyakit hewan dan tumbuhan
karantina yang berbahaya yang kemungkinan terbawa oleh barang-barang
kiriman yang dikirim melalui PT Pos Indonesia (Persero).
Junaidi menambahkan dalam rangka optimalisasi penyelenggaraan
perkarantinaan pertanian khususnya di kantor pos, telah ditandatangani
perjanjian kerja sama antara Badan Karantina Pertanian, Kementerian
Pertanian Republik Indonesia, dan PT Pos Indonesia (Persero).
Junaidi menambahkan kerja sama Kementan dengan PT Pos Indonesia
(Persero) dilakukan untuk mendukung kinerja ekspor pertanian. Sebab,
berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat nilai
ekspor pertanian tahun 2019 hingga 2021 menunjukkan tren positif.
Di 2020, nilai ekspor tercatat Rp 451,7 triliun atau meningkat sebesar
15,79% dibandingkan pencapaian nilai ekspor tahun 2019 sebesar Rp
390,16 triliun. Sementara di tahun 2021, ekspor pertanian tercatat
mencapai Rp 625,01 triliun atau meningkat 38,6% persen dari nilai
ekspor tahun 2020.
Sementara itu, menurut data IQFAST, sepanjang 2021 tercatat ekspor
dari sub sektor hortikultura berada pada posisi tertinggi yaitu
mencapai volume 164,2 ton dengan frekuensi sebanyak 5.076 kali,
disusul komoditas asal sub sektor perkebunan dengan volume 103,8 ton
dengan frekuensi pengiriman 653 kali.
Selanjutnya komoditas asal subsektor peternakan dengan volume 39,2 ton
dengan frekuensi 132 kali, diikuti komoditas asal subsektor tanaman
pangan sebanyak 21,7 ton dengan frekuensi 13 kali. Sementara itu,
komoditas asal sub sektor non perkebunan dengan frekuensi 11 kali
serta total volume 3,4 ton.
Selain komoditas pertanian yang telah lama masuk di pasar dunia
seperti sawit dan turunannya, kelapa, karet dan kopi, semakin banyak
juga ragam komoditas baru yang diminati di pasar dunia. Sebut saja
komoditas asal subsektor perkebunan berupa pinang biji, porang asal
subsektor tanaman pangan, rempah-rempah dan bunga melati asal
subsektor hortikultura, serta pakan ternak dan sarang burung walet
asal subsektor peternakan yang menunjukan permintaan dari berbagai
negara dengan tren meningkat.
Direktur Kelembagaan PT Pos Indonesia (Persero) Nezar Patria yang
hadir dan turut melepas ekspor menyebutkan pihaknya memiliki inovasi
layanan berupa Pos Aja!. Layanan ini memudahkan pengiriman barang
lewat Pos Indonesia. “Di era digital kamipun beradaptasi, agar lebih
mudah dan makin banyak ekspor pertanian kita,” kata Nezar. (pitta)
