Manggarai Barat, hariandialog.co.id.- Gemerlap perayaan Hari
Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2026, kabar
menyayat hati datang dari pelosok Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara
Timur.
Sorotan kemajuan pendidikan yang kerap digaungkan di pusat di
Jakarta, masih ada sosok pendidik yang harus bertahan dengan
pengorbanan luar biasa demi mencerdaskan anak bangsa.
Namanya, Yustina Yuniarti, guru honorer di Sekolah Dasar
Katolik (SDK) Wukur, Desa Sikka, adalah satu dari ribuan pendidik di
daerah terpencil yang nasibnya belum tersentuh kebijakan kesejahteraan
yang layak. Selama 11 tahun ia mengabdikan diri di dunia pendidikan,
namun bayaran yang diterimanya tak sebanding dengan jerih payah dan
risiko yang dihadapi setiap hari.
Setiap bulan, wanita ini hanya menerima upah sebesar Rp150
ribu. Jika dihitung per hari, angka itu hanya berkisar Rp5 ribu-jauh
di bawah Upah Minimum Provinsi NTT tahun 2026 yang mencapai Rp2,3
juta. Ironisnya, jumlah tersebut bukan bersumber dari anggaran
pendidikan negara, melainkan hasil iuran sukarela orang tua murid yang
mayoritas hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Pengabdian Yustina bukan sekadar mengajar di dalam ruangan.
Setiap pagi, ia harus menempuh perjalanan kaki sejauh enam kilometer
melintasi medan yang sulit. Perbukitan terjal, bibir jurang yang
curam, hingga garis pantai yang berbahaya harus dilewatinya demi
sampai ke sekolah. Sepatu formal tak bisa ia gunakan karena kondisi
jalan yang ekstrem; sandal jepit menjadi satu-satunya alas kaki yang
setia menemaninya melintasi jalan berlumpur saat hujan atau berdebu
tebal saat kemarau.
“Kalau hujan jalanan licin dan berlumpur, kalau kemarau
debunya sampai masuk ke mata. Risiko jatuh ke jurang atau tersapu
ombak saat air pasang selalu ada di pikiran saya setiap berangkat dan
pulang sekolah,” ujar Yustina dengan nada lirih saat ditemui di
sekolahnya, Senin, 4 Mei 2026.
Sejak tahun 2014, risiko nyawa itu harus ia pertaruhkan demi
memastikan 17 murid kelas V di sekolahnya tetap mendapatkan hak
pendidikan dan tidak putus sekolah. Bagi Yustina, melihat muridnya
tumbuh berilmu menjadi alasan terbesar untuk terus bertahan, meskipun
kondisi pribadinya serba kekurangan.
Kondisi sekolah tempat ia mengajar pun tak kalah
memprihatinkan. Dinding ruangan kelas terbuat dari papan kayu yang
mulai lapuk, sementara atap sengnya banyak yang bocor sehingga saat
hujan turun, ruangan belajar harus dipindah atau ditutupi kain penutup
seadanya. Fasilitas pendukung pembelajaran pun nyaris tidak ada.
Situasi ini terjadi di saat pemerintah pusat mengalokasikan
anggaran pendidikan tahun 2026 sebesar Rp708 triliun-angka yang
terlihat besar di atas kertas namun seolah tak terasa dampaknya di
pelosok negeri. Yustina pun menitipkan harapan kepada Presiden Prabowo
Subianto agar segera menyentuh nasib pendidik dan sekolah di daerah
terpencil.
“Saya berharap pemerintah segera menegerikan (menjadikan status
sekolah negeri) sekolah kami dan memberikan perhatian lebih kepada
guru honorer di daerah 3T: Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Kami
mohon kebijakan pengangkatan ASN tidak disamakan dengan lulusan baru.
Kami sudah punya pengabdian puluhan tahun, pengalaman di lapangan yang
tak ternilai,” tegasnya, cnni. (tobing-01)
