Jakarta, hariandialog.co.id – Kiprah pengacara ternama ini memang terbilang luar biasa, tidak hanya dikenal sebagai sosok pembela keadilan, namun kecintaannya terhadap olahraga tinju juga patut diacungkan jempol.
Tak mengherankan jika Hartono Tanuwdjaja SH MSi MH CBL yang di juluki ‘Sang Advokat- Promotor yang jugaq memiliki sasana tinju ini, memiliki banyak pengalaman hidup yang sangat menarik baik sebagai seorang advokat mapun sebagai promotor tinju di tanah air. Bahkan namanyapun masuk dalam daftar badan tinju professional dunia sebagai promotor berlisensi.
Berangkat dari kecintaannya terhadap olaharag tinju, khususnya tinju professional, Hartono mengaku banyak hal positif yang dia dapat sejak belasan tahun berkecimpung di dunia tinju professional.
Ketertarikannya saat tertantang mendirikan sasana tinju, yang diberi nama Hartono Tanuwidjaja Boxion Camp (HTBC) pada tahun 2010 silam. Semula yang hanya ingin membantu para petinju professional yang tak memiliki wadah berlatih dan kesempatan bertanding di atas ring, mendorong pria kelahiran Bandung 9 Juni 1965, mendirikan HTBC di daeah Cengkareng Jakarta Barat.
Bahkan dari HTBC inilah mampu melahir para pentinju juara di tanah air, yang membuat Hartono kian bangga dan makin mencintai olahraga tinju professional ini. Saat itu Hartono mengubah nasib para petinju, yang biasanya paling dibayar 3,5 juta, dia ubah menjadi Rp 5 juta. Tak mengherankan banyak petinju yang akhirnya bergabung ke HTBC pada tahun berikutnya.
Tidak hanya mendirikan HTBC, kiprah Hartonopun di tinju professional kina melejit, dengan menjadi promotor pertandingan tinju professional, puncaknya ketika dia menggelar pertandingan tinju professional di GOR Gunung Agung Amlapura di Karangasem Bali pada tahun 2012, dimana dia mampu menggela pertandingan perebutan lima gelar nasional sekaligus di sana.
Pada tahun yang sama Hartono, sebagai promotor tinju, telah merambah ke pertandingan tinju internasional, dengan menggelar kejuaraan tinju perebutan gelar kelas super bantam WBO Asia Pasific, dimana petinju Indonesia Carlos Lopez menjadi juaranya, setelah mengalahkan petinju Filipina, Cirilio Espino.
Hartono mengaku apa yang telah dilakukannya untuk tinju profesional di Indonesia belumlah apa-apa, masih banyak yang dia harus lakukan, untuk memajukan sekaligus mengangkat kembali tinju professional di tanah air, terlebih pada masa pandemi seperti saat ini.Bahkan Hartono yang low profile dan sangat akrab dengan para wartawan ini berkeinginan besar memajukan tinju profesional Indonesia, sebagai promotor tinju pro menaikan honor bayaran tinju yang bertatung di atas ring tinju antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta untuk level juara nasional.
“Selama ini bayaran Petinju Pro di Indonesia masih sangatlah terbatas dengan kisaran Rp 2,5-3,5 juta sampai dengan Rp 7,5 juta di level nasional. Kasian itu petinju jika hanya dibayar sekian, padahal mereka di atas ring harus terkena pukulan, dan apa yang dibawa untuk keluarga mereka?. Melihat hal itu maka timbul hasrat besar saya sebagai promotor pro untuk menaikan honor bayaran tinju antara Rp 25 hingga Rp 50 juta. Hal ini saya akan lakukan karena itu merupakan cita-cita saya,” kata Hartono.
Pria berkacamata dan murah senyum ini, mengakui keterlibatan dirinya dalam dunia tinju professional sulit dilepaskan, karena dia telah merasakan semuanya baik sebagai manajer petinju, pemilik sasana, promotor tinju, pengurus organisasi tinju (ATI), dan penulis buku tinju. “ Saya akan ajukan rekor MURI perjalanan dan pengalaman saya ini di tinju professional,” ujar Hartono saat dijumpai di Kantornya di bilangan Harmoni Jakarta, Kamis (1/4/2021) lalu.
Hartono mengungkapkan keinginann dirinya menulis buku tentang tehnik olahraga tinju dan peraturan-peraturan olahraga tinju, buku dasa warsa Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) sebagai organisasi tinju, serta buku tentang pengangalamannya di olahraga tinju, berisi foto-foto dirinya selama menggeluti olahraga tinju professional.
Menyinggung suka dukanya mengeluti tinju proesional, khususnya saat menjadi promotor, Hartono mengatakan menjadi promotor tinju nama kita tidak hanya dikenal sebaga promotor tinju, tapi kita juga tercatat dalam bookrate (bank data tinju internasional) yang tercantum atau tercatat nama kita di badan tinju dunia, sebagai promotor.
Tentunya ini menjadi kebanggaan sekligus motivasi dirinya sebagai promotor tinju, untuk berbuat yang lebih baik lagi ke depannya. Apalagi potensi Indonesia sangat terbuka dalam dunia tinju professional.
“Kalau lihat dengan petinju Filipina, kita rasanya mampu bersaing, meski gaya tinju setiap negara beda-besa. Namun kita terkendala pada jam tanding, dimana kita yang kalah dibanding mereka,” ungkap Hartono pula.
Pihaknya berharap pemerintah memalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) cepat merespon keinginan kalangan tinju porofesional di tanah air, yang minim jam terbang para petuinjunya karena hampir tadak adanya kesempatan untuk bertanding.
Hartono juga menyayangkan dibubarkannya Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) di Kemenpora, mengingat BOPI sangat berperan dan membantu kelangsung pertandingan tinju prosesional selama ini.
“Kenapa BOPI dibubarkan, padahal BOPI membantu, rekomendasi dan mengawasi. Padahal BOPI sangat membantu kita mengawasi tinju profesional, tapi akhirnya dibubarkan,” ungkap Hartono.
Haryono menambahkan, kalau hanya mengandalkan dari peran Menteri Pemuga dan Olahraga (Menpora), untuk tinju profesonal, tentunya sangat sulit karena banyak yang harus ditanganinya. Yang jelas peran BOPI selama ini sangat membantu mereke dalam olahraga tinjun prosional di Indonesia.
“Memang semuanya perlu sienergi dari atlet, pelatih dan pemilik sasana, untuk melahirkan petinju profesional. Peran BOPI sangat membantu mengawasi kesiapan petinjua Indoensis tampail,di kancah tinju prosesfosinal baik didalam maupun di luar negeri.
Hartono mengungkapkan dirinya kini sangat dekat dengan dunia tinju, karena olahraga adu jotos ini banyak mengajarkannya soal sportifitas, kesenangan, popularitas.
Selain itu juga, yang lebih menarik adalah filosopi tinju, yang dinilai sangat sederhana dari tinju tapi sangat penting bisa diterapkan bagi semua bidang pekerjaan dan profesi apapun, yaitu “Barang siapa naik panggung tanpa persiapan, dia akan turun tanpa penghormatan”. Artinya setiap pofesi atau pekerjaan yang kita lakukan,semuanya itu harus melalui persiapan yang matang.
Hal serupa diambil Hartono dari pernyataan Presiden AS ke-16 Abraham Lincoln, yang juga seorang pengacara yang mengatakan “ Saya mempersiapkan diri, setiap saat, Sehingga saat ada kesempatan datang, saya sudah siap”.
Filosopi itu sama dengan filosopi tinju, yang sangat penting dalam kembangkan karier, memang tidak semudah dibayangkan, dimana semua harus dipersipakan dengan baik, jika ingin mencapai hasil yang terbaik.
Selain itu filosopi tinju lainnya yang tak kalah peting adalah, seni bertinju ‘Meyerang dan Bertahan’., dimana artinya meyerang adalah mencari uang dan bertahan adalah menghadapi krisis, seperti saat masa pandemi seperti ini.
Karenanya filosopi tinju harus kita kedepankan dan tentunya bermanfaat bagi inplementasi bagi kehidupan kita sehari-hari. “Jadi filosopi-filosopi tinju itu secara sederhana bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tanpa kita sadari, banyak sisi positif yang orang tidak tahu tentang olahraga tinju, bukan sekadar gebuk menggebuk saja,” tandasnya.
Bagi Hartono kecintaan terhadap olaharaga, seperti sudah menyatu dalam dirinya, karenanya dia selalu berpikir bagaimana membawa perubahan yang lebih baik bagai olaharaga ini.“Konsep saya adalah bagaimana saya bisa menggelar sebuah pertandingan tinju professional. Karena saya tahu, sebuah pertandingan begitu berharga bagi seorang petinju professional,” ungkap Hartono.
Hartono juga ingin terus berinovasi bagaimana menggelar pertandingan tinju professional yang terbaik di Indonesia. Tujuannya tak lain agar nasib para petinju prosesional di Indonesia bisa terwujudkan, bisa tampil atas ring secara kontinyu.
Muaranya tentu adalah pencapaian prestasi tinju professional di Indonesia yang lebih baik ke depannya, minimal bisa sejajar dengan filipina dan Thailand, bahkan bisa mengalah prestasi petinju dari kedua negara tersebut.
Karenanya Hartono selalu mengupayakan pendapatan para petinju lebih baik dari sebelumnya, tidak sekadar kebutuhan akan makan, berlatih, tapi yang lebih penting adalah kebutuhan akan sebuah pertandingan.“Intinya, tinju harus kita siapkan lebih baik lagi ke depan. Karena potensi sangat besar, organisasinyapun jelas, begitu juga aturan tandingnya juga jelas, terukur, dan tidak sembarangan, semua dilakukan dengan baik.
Semua orang mau bersaing menjadi nomor satu, ingin menjadi terkenal menjadi hebat, tapi nggak ada kemampuan. “saya pernha ditawarkan menajdi ketua ATI DKI Jakarta, tapi karena ada faktor nepotisme, saya tersingkir.
Konsep saya adalah bagaimana saya bisa menglelar sebuah pertandingan tinju professional. Karena saya tahu, bagaimana pertandingan tinju professional karena sangat berarti bagi seorang petinju.
Selain itu kita juga bisa membuat para petinju happy dalam menghadapi pertandingingan, termasuk happy saat dia bertanding dan berada di atas ring. Untuk itu kita juga harus penuhi nutria petinju,kebutuhunan dia untuk pertandingan seperti penuhi kebutuhan akan peralatan tanding seperti sepatu baru.
Saya ingin terus berinovanasi bagaimana menggelar pertandingan tinju professional yang terbaik di Indoensia. Tujuannya tak lain agar nasib para petinju prosesional di Indonesia bisa terwujudkan, bisa tampil atas ring secara kontinyu. Muaranya tentu adalah pencapaian prestasi tinju professional di Indonesia yang lebih baik ke depannya, minimaa bisa sejajar dengan Filipina dan Thailand, bahkan bisa mengalah prestasi petinju dari kedua negara tersebut. (Zal/Het)
