Jakarta, hariandialog.co.id.- Sisa sisa lumpur dan
alat-alat rumah tangga yang hancur lebur tidak bisa dipergunakan
begitu juga kerusakan tempat tinggal belum diperbaiki, semua sebagai
akibat banjir. Warga yang menjadi korban banjir paling parah ada di
Jakarta, Bogor dan Bekasi.
Kerugian warga yang terkena banjir belum ada rinciannya
karena tidak dimintakan untuk diperinci oleh instansi terkait. Mungkin
sangkin banyaknya hingga susah mendatanya. Takut kalau didata korban
banjir menjadi suatu alasan dari masyarakat untuk menuntut pemerintah
melalui instansi pendata ke lapangan atau ke lokasi pasca banjir.
Pemerintah hanya mengatakan bersabar dan ini musibah dari
Tuhan akibat bencana alam karena hujan turun terus menerus di hilir
Jakarta maupun Bekasi. Hilir yang dimaksud adalah di Bogor. Namun,
kalau warga Bogor yang terkena banjir, tidak bisa bilang akibat turun
hujan deras di hilir.
Memang benar ada turun hujan yang curahnya cukup banyak
dan lain dari hujan sebelumnya. Namun, semua yang menjadi alasan
akibat turun hujan terus menerus, sudah pasti bukanlah. Tapi, banjir
yang melanda Bogor, Jakarta maupun Bekasi adalah akibat ulah manusia.
Sadar tidak sadar ada ucapan akibat perubahan Rencana Umum
Tata Ruang Umum (RUTR) di wilayah yang terkena banjir. Dan memang,
harus diakui yang membuat RUTR adalah manusia dan yang merubahnya juga
sudah pasti manusia. Semua ada alasan perubahan dan kemungkinan
perubahan RUTR dikarenakan sesuatu “ “. Sehingga disahkan perubahan
RUTR tersebut.
Memang, banjir yang kemarin ini melanda Bogor dan Jakarta
maupun Bekasi dibeberapa lokasi atau tempat selalu menyalahkan
pembangunan di hilir yaitu di Bogor khususnya Puncak.
Tentu berdiri banguan, apakah itu rumah baru, villa maupun kottage
juga hotel-hotel tidak terlepas dari pembersihan lahan untuk dijadikan
tempat berdirinya bangunan baru.
Pembangunan apapun itu bangunan sudah pasti membersihkan
apa saja yang tumbuh di atas lahan tersebut. Sudah pasti ada pepohonan
harus ditebang dan rumput setumpukan pun harus dibersihkan. Padahal,
pohon pohon maupun rerumputan adalah bagian penampung air apapun itu
sementara sebelum mengalir ketempat yang rendah.
Sehingga dengan tidak ada lagi penahan air apakah pepohonan,
rerumputan atau tanaman apa saja, sudah pasti akan mengalir secepatnya
ke tempat yang lebih rendah. Dan inilah salah satu penyebab banjir
dari Hilir Jakarta. Dan di wilayah Bogorpun, karena di atas puncak
atau di bukit yang ada di tempat tertinggi sudah dibabat habis menjadi
air mengikis yang dilalui.
Jadi yang disalahkan adalah bangunan apa saja di Puncak
Bogor. Dan ini semua akibat ulah manusia. Tentu, pengawas berdirinya
bangunan adalah manusia, begitu juga Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun
Warga, Kepala Desa, Maupun Camat, Bupati adalah manusia yang tidak mau
bertindak tegas atas adanya bangunan bangunan baru. Kenapa bebas
berdiri apalagi di daerah das Sungai dan daerah terlarang ada
bangunan, bisa berdiri yah ulah manusia.
Tapi, banyak yang lupa atau pura-pura lupa, bukan hanya di
HILIR pembangunan yang menyebabkan banjir tapi juga di HULU hampir
akhir pengaliran air.
Coba dilihat berapa banyaknya bangunan berdiri dipinggir
laut. Dan tentu berdirinya bangunan tersebut akan menahan air untuk
mengalir ke laut. Bahkan, air susah mengalir ke laut yang selama ini
lebih rendah dari Puncak atau daerah tertentu di Jakarta.
Semua bangunan apakah itu rumah mewah atau apartemen
maupun hotel yang ada di sisi laut sudah pasti lebih posisinya dari
sisi pinggir laut. Artinya, kebebasan air mengalir tertahan dan lamban
mengalir ke laut.
Jadi di Hilir bangunan terus bertambah dan di HulU pun
sama. Sehingga, banjir jangan hanya menyalahkan karena bangunan di
Puncak tapi juga pembangunan yang ada sisi laut.
Tentu yang disalahkan sudah pasti manusia karena pemilik bangunan yang
ada di HULU juga manusia. Begitu juga pengawas akan kehadiran bangunan
di sisi atau dipinggir laut atau bahkan laut dibangun juga adalah
pelakunya manusia. (tob)
