
Medan, hariandialog.co.id.- Mantan atlet Nasional cabang bulutangkis Icuk Sugiarto meminta, agar para pengelola cabang-cabang olah ( Cabor) jangan berlagak seperti “raja”. Para pengelola atau pemimpin di Cabor harus transparan dalam pengelolaan dana
Karena menurutnya, dana yang dikelola pengurus cabor-cabor itu berasal dari rakyat, jadi harus dikelola secara transparan, jangan sesukanya menggunakan uang rakyat itu, kata Icuk pada acara konferensi pers di Santika Hotel, Medan, Minggu (15/9/2024).
Dia menerangkan, masa depan atlet berprestasi saat ini cukup menggembirakan dan menentukan untuk hidup masa depan.
Kalau dulu katanya, atlet peraih juara, hanya ucapan terimakasih yang diperoleh dari pemerintah. Sekarang sudah beda, atlet peraih medali emas sudah diberi bonus Rp500 juta. Itulah enaknya atlet zaman sekarang, kenangnya.
Tapi, untuk meraih prestasi itu, tidak gampang. Harus penuh latihan keras untuk meraih sukses.
Legenda bulu tangkis putra terbaik di era 1983 itu juga menjelaskan, bahwa prestasi luar biasa seorang atlet hanya akan dapat diraih melalui usaha dan perjuangan yang luar biasa pula.
Icuk Sugiarto yang Juara Dunia Bulu Tangkis tunggal putra 1983 dan penggiat olahraga nasional ini juga menegaskan bahwa seorang juara bukan muncul tiba-tiba dan bukan hasil instan atau seketika.
Menurutnya, seorang juara merupakan hasil tempaan melalui proses panjang, berliku-liku, dan tak kenal lelah. Ia mencontohkan dirinya yang mengawali karier sebagai atlet, yang telah melewati perjalanan panjang, berjenjang, disiplin, dan kerja keras tanpa henti.
Acara Konferensi pers itu dipandu Raja Parlindungan Pane, Ketua Bidang Media Panitia Pengawas dan Pengarah PON XXI/2024 Aceh-Sumut untuk wilayah Sumatera Utara.
Sewaktu mengawali karier sebagai atlet nasional, Icuk mengaku terbiasa pulang latihan lari dari Senayan menuju Ragunan, tempat sekolah atlet di Jakarta. “Terkadang saya berlari sampai harus buka baju karena udara panas, dan melewati kerumunan orang yang baru pulang dari kantor, berbaju rapi dan berdasi,” ungkapnya.
Bagi Icuk, olahraga adalah jalan hidupnya. Berlatih bagi dia sama halnya dengan orang bekerja. Icuk mengaku sepatu dan celana pendek menjadi perlengkapannya bekerja. Karena itu, ketika ia berlari menyusuri jalanan di Jakarta sepulang latihan, hal tersebut menjadi ujian mental baginya.
Icuk juga mengakui bahwa kancah Pekan Olahraga Nasional (PON) memberikan andil besar dalam perjalanannya sebagai atlet. Ia pertama kali mengikuti PON pada PON X di Jakarta, 1981. Prestasi terbaik yang ia bukukan di PON itu dilanjutkan dengan latihan keras, disiplin, dan spartan, yang menghantarkannya menjadi juara pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis IBF di Copenhagen, Denmark, 1983.
Meskipun kemudian meraih prestasi tertinggi di Copenhagen, Icuk masih mengikuti beberapa kali PON sebagai atlet maupun pembina. “Arena PON telah membesarkan saya, karenanya saya tidak mau melupakan PON,” jelasnya.
Oleh karena itu, pada kesempatan menghadiri PON XXI/2024 di wilayah Sumatera Utara, ia ingin membagikan pengalamannya kepada para atlet muda. Para atlet yang kini tampil di PON diharapkan dapat mengikuti jejaknya: berlatih keras, disiplin, tak kenal lelah, dan meraih prestasi dunia.
Icuk berpesan agar para juara PON XXI jangan cepat berpuas diri dengan medali dan bonus yang diterima. “Terus berlatih keras, disiplin dalam banyak hal, dan percaya diri,” tuturnya lagi
“Atlet hebat tidak mesti lahir dari keluarga kaya, anak pejabat, atau anak konglomerat. Semua atlet berpeluang dan dapat menjadi juara dunia. Contohnya adalah juara panjat dinding dan angkat besi Olimpiade Paris dari Kalimantan Barat dan Banten,” sambungnya.
Icuk berharap, dari PON XXI ini bisa melahirkan atlet-atlet handal handal untuk bersaing di dunia internasional.( Emmar)
