

Klungkung- Bali- hariandialog.co.id- Masa keemasan komoditi rumput laut dikawasan Nusa Lembongan Nusa Panida Kab. Klungkung- Bali, saat ini mulai menurun produksinya. Ditengah hiruk pikuk kedatangan wisatawan manca Negara di Pulau Nusa Panida khususnya Nusa Lembongan merubah maenset penduduk disana.Generasi muda di pulau ini lebih tertarik bekerja atau berbisnis bidang pariwisata.
Nusa Panida yang memiliki 16 Desa , yakni Batu Kandik, Batu Madeg, Batununggul, Bungan Mekar, Jungut Batu, kampong Toyapakeh. Klumpu, Kutampi, Kutampi Kaler, Nusa Lembongan, Ped, Pejukutan, Sakti, Sekartaji, Suana , Tanghlad.Luas Pulau ini 202,41 Km di penuhi bukit karang dan pohon terdiri 3 pulau yakni Pulau Nusa Panida,Nusa Lembongan dan nusa Ceningan. Saat ini hampir di ketiga pulau sudah dirawamaikan dengan kehadiran wisatawan dan fasilitas hotel, Restauran,Café . Mendorong penduduknya sebagian besar beralih pekerjaan ke pariwisata.
Tak pelak lagi, kalau puluhan tahun lalu penduduk sebagian bekerja dari bertani, nelayan dan rumput laut berkualitas bagus, bahkan sampai di ekspor.Bahkan menjadi perhatian pemerintah terus meningkatkan produksi. Namun sayang kejayaan produkis rupmput Laut saat jauh menurun,Karena semakin berkurangnya sentuhan pendampingi dari lembaga pemerintahan, swasta atau Finansial, mulai dari tanam sampai panen di tepian laut Nua Ceningan- Lembongan seperti desa Semaya.
Seorang Petani Pande Nyoman Rajin,Jum,at ( 13/9) kepada puluhan wartawan dari berbagai Media dalam kunjungan ke UMKM di inisiasi Bank Indonesia Bali, menceritakan rasa pesimisnya Runput Laut akan kembali menjadi komiditas unggulan. Karena nyaris tidak ada lagi generasi muda yang menggarap rumput laut, “ Mereka sebagian besar sudah beralih ke Pariwisata. Bahkan sudah ada yang tidak lagi kembali ke desa mereka di Nusa Panida termasuk ke Lembongan,jadi kami yang lansia ini mencoba mempertahakan, “ ungkap Pande, yang mulai menggarap rumput laut sejak 1984 dan pernah terhenti selama 6 tahun.
Ia kembali menggarap tahun 2016 kembali istraihat . Saat Pandemi Covid-19 kembali menggarap rum[ut laut bersama petani lain, “ Saat itu banyak tantangan diantaranya kena limbah hotel, penyakit busuk batang badan rumput laut tipis ( pipih ) pertumbuhan lambat, batang retak terkena ombak hingga putus, “ jelas Pande, seraya merasa lelah untuk bertahan karena usia.
Namun ia tetap semangat terus bertahan untuk membudidayakan rumput laut.Ia menyayangkan jika rumput laut dibiarkan tanpa sentuhan, “ Karena rumput laut ini bisa dibuat Sabun cuci,Sabun mandi, krupuk dan daluman ( minuman ) juga kosmetik. Sekarang harga jual 1kg – Rp. 12. 500 – 14.000 jenis basah/nori/agar laut, “ Saat ini saya bertahan garap lahan di teluk Ceningan- Lembongan puluhan hektar, yang lainnya saya sewakan kepada petani rumput laut di Desanya Semaya, Kami optimis rumput Laut di Lembongan mampu bertahan asalkan ada pendamping dan dana untuk membudi dayakannya, “ ungkap Pande, menyebut beberapa tahun lalu ada suntikan dana dari BRI, tadi terhenti, saya tidak tau sebabnya, “ ujar Pande.
Di Nusa Lembongan terdapat sekitar 8.000 m2 lahan air laut untuk pembudidayakan rumput laut. sekarang makin menyusut karena air laut sekitar Nusa Lembongan mulai dipadati kapal untuk transportasi wisatawan. Nusa Lembongan ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri.
“ Untuk Bank Indonesia Bali terus mendorong agar pariwisata Bali mewujudkan Quality Tourism ( Pariwisata berkualitas dan berkelanjutan). Karena Ekonomi Bali tumbuh 5,36 % dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 4,6 juta ditargetkan 5,7 juta . Bank Indonesia Bali menilai hal ini luar biasa potensi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan mewujudkan driver economic grourth baru bagi Bali, “ Kami BI terus mendorong sektor pertanian dalam arti luas seperti prikanan, Hortikultural terus digarap dan ditingkatkan, “ tandas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali Erwin Soeriadimadja. ( Nani )
