
Jakarta, hariandialog.co.id– Ketua Umum Yayasan Komunikasi Literasi Kesehatan (Komlitkes) dr Mohamad Saptadji menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Rektor Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR (London School Public Relation) Dr. Andre Ikhsano, M.Si, di Jakarta, Kamis, (29/10/2026).
Kedua pihak menegaskan komitmennya untuk berkontribusi menjembatani komunikasi untuk menghilangkan “noise’ atau kesenjangan komunikasi antara dunia kesehatan (dokter) dengan pasien (masyarakat).
Rektor LSPR Andre Ikhsano dan Ketua Umum Yayasan Komlitkes Mohamad Saptadji mengatakan hal itu saat diwawancarai usai penandatangan Nota Kesepahaman di Kampus LPSR.
Turut menyaksikan acara itu jajaran manajemen LPSR dan pengurus Yayasan Komlitkes Toto Irianto (Sekretaris Umum), Dudi Herianto (Wakil Bebdahara), juga Dimas Supriyanto dari Yayasan Kota Jakarta Weltevreden.
LEMBAGA BERBASIS KOMUNIKASI
Andre Ikhsano menjelaskan, sebagai institusi pendidikan yang berbasis komunikasi, LSPR memiliki modal kuat untuk mendukung komunikasi kesehatan publik.
“Jadi kami LSPR basisnya adalah lembaga pendidikan, institusi pendidikan. Pendidikan kami memang lebih fokus kepada komunikasi. Jadi kita punya 10 program studi aktif. Di antara seluruh itu 5 nya sebenarnya komunikasi, baik S1, S2, S3,” ujar Andre.
Esensi kerjasama ini adalah bagaimana komunikasi kesehatan bisa sampai ke masyarakat tanpa distorsi.
“Kerja sama LSPR dengan yayasan ini harapannya kita bisa berkontribusi, kita bisa mendukung aspek komunikasinya, sehingga betul-betul berbagai macam noise antara dunia kesehatan ke publik ke masyarakat itu bisa terjembatani melalui komunikasi,” katanya.
Ia menambahkan, kekuatan utama LSPR ada pada sumber daya manusianya.
“Karena kami institusi pendidikan, pasukan kita lebih banyak ke mahasiswa, dosen. Dosen kita ada ratusan dan tugas utama dosen di samping mengajar juga harus melakukan pengabdian.
Pengabdian dosen juga bisa diarahkan untuk membantu bagaimana menyebarkan komunikasi kesehatan ke publik.
Saat ditanya bentuk real kerjasama, Andre membeberkan dua program terdekat.
Pertama, produksi konten edukatif.
“Bentuk konkretnya yang terdepan adalah bagaimana kita bersama-sama untuk membuat podcast mengenai komunikasi kesehatan. Berbagai macam isu-isu kesehatan itu akan kita sampaikan kepada publik,” jelasnya.
WUJUDKAN WISATA KESEHATAN
Kedua, gagasan yang lebih besar, yakni mewujudkan kawasan wisata kesehatan di Jakarta.
“Ke depannya kita berencana, salah satunya yang cukup signifikan adalah bagaimana menciptakan suatu kawasan khusus di Jakarta, khususnya di Jakarta Pusat, sebagai sebuah kawasan wisata kesehatan, “ paparnya.
Nanti kedua pihak akan coba merangkul berbagai macam rumah sakit ternama dan kita akan tentu sowan kepada Pemprov DKI untuk bisa mewujudkan hal ini sehingga Jakarta menjadi kota yang aman dan sehat,” ungkapnya.
Bagi LSPR masalah kesehatan bukan Bidang Baru. LSPR sudah punya Prodi Healthcare Communication.
Perhatian LSPR terhadap kesehatan sudah lama dan terstruktur.
“Walaupun kita memang heavy-nya di komunikasi tapi interest kita ke dunia kesehatan itu begitu besar,” tegasnya.
Pertama, lanjut dia, LSPR punya konsentrasi tersendiri yang disebut healthcare communication untuk levelnm di S2, yang mungkin kampus-kampus lain belum memikirkan sampai ke sana.
Selain itu, LSPR juga memiliki pusat kajian khusus.
Kedua, LPSR memiliki pusat kajian literasi kesehatan. Pernah kerjasama dengan PERSI (Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) menginisiasi lahirnya Perhumasri – humas-humas lingkup rumah sakit.
“Kita terjun ke sana untuk membantu komunikasi para PR-nya dan kita mensertifikasi mereka lewat BNSP, lewat lembaga sertifikasi LSPR,” jelasnya.
Andre memaparkan profil kampus yang dipimpinnya. LSPR berdiri sejak 1992, sehingga tahun ini memasuki usia 34 tahun. Awalnya bergerak di kursus, dan berubah menjadi program sarjana menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi di tahun 1999.
Setelah itu mengembangkan S2 dan akhirnya berubah lagi menjadi Institut. Sekarang namanya Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR.
Tidak hanya fokus komunikasi, tapi juga bisnis, tourism hingga pendidikan.
Kampus pusat berada di Sudirman Park Jakarta juga di Bekasi, dan Bali. Keunggulan LSPR, menurutnya, ada pada internasionalisasi dan praktikum.
LANGKAH STRATEGIS TERJEMAHKAN ISU
Sementara itu Ketua Umum Yayasan Komlitkes dr Mohamad Saptaji menilai kerjasama dengan London School of Public Relations (LSPR) sebagai langkah strategis untuk menerjemahkan isu-isu kesehatan, termasuk stroke, agar lebih mudah dipahami dan disebarluaskan kepada masyarakat .
“Di sudut pandang komunitas ya, bahwa LSPR itu satu lembaga komunikasi yang memang sudah mempunyai nama di Indonesia, kemudian juga alumninya bagus-bagus,” ujarnya.
Selama ini komunitas kesehatan seringkali kesulitan membahasakan program dan ide-ide pencegahan berbagai penyakit dengan bahasa yang populer. Di sinilah peran LSPR dibutuhkan.
“Kami memerlukan partner yang bisa membahasakan ide yang dapat disebarluaskan dan dipahami masyarakat. Salah satunya kami gandeng LSPR karena potensinya sudah teruji baik, ” kata Saptadji.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan model edukasi kesehatan yang tidak hanya bersifat medis, tetapi juga pesan yang komunikatif. (rel/tob).
