
Semarang, hariandialog.co.id – Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian, dan LPDB Koperasi memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem industri gula nasional berbasis koperasi petani tebu.
Hal itu disampaikan dalam Rembuk Petani Tebu Rakyat dan Sosialisasi Dana Bergulir Koperasi bersama PT PG Rajawali I di Semarang, Selasa (14-07-2026). Kegiatan diikuti sekitar 100 pengurus dari 50 koperasi petani tebu di Jateng, Jatim, DIY, dan Jabar.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, penguatan tata kelola koperasi tebu merupakan kelanjutan transformasi agar koperasi menjadi lembaga ekonomi yang profesional dan produktif. “LPDB Koperasi tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga melakukan inkubasi, pendampingan, dan peningkatan tata kelola. Hasil panen tebu akan di-offtake PT PG Rajawali I dan dipasarkan melalui gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” ujar Ferry.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan Indonesia sudah swasembada gula konsumsi. Tantangan selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan gula industri dan bioetanol E10-E20 dari produksi dalam negeri. “Kunci ada pada peningkatan produktivitas dan rendemen. Di sinilah peran koperasi sebagai jalur bisnis penghubung petani dengan industri,” katanya.
Sementara itu Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto menegaskan, LPDB berkomitmen mendukung koperasi tebu melalui pembiayaan mudah, pendampingan usaha, dan penguatan kelembagaan. Hingga 30 Juni 2026, LPDB telah menyalurkan dana bergulir Rp22,4 triliun. Untuk pembiayaan syariah mencapai Rp5,5 triliun sejak 2020. “Dengan tata kelola yang baik, koperasi akan lebih siap mengakses pembiayaan dan menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat,” tutup Krisdianto.
Melalui sinergi ini, pemerintah optimistis produktivitas petani meningkat dan target swasembada gula nasional dapat diwujudkan.
Penyaluran Dana Bergulir
Krisdianto menjelaskan, hingga 30 Juni 2026 LPDB Koperasi telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp22,4 triliun, terdiri atas Rp17,4 triliun untuk skim Simpan Pinjam dan Rp5 triliun untuk skim Sektor Riil.
Sementara sepanjang Januari hingga Juni 2026 realisasi penyaluran mencapai Rp1,07 triliun, dengan rincian Rp313,6 miliar untuk Simpan Pinjam dan Rp760,1 miliar untuk Sektor Riil. Di sisi lain, penyaluran pembiayaan syariah sejak 2020 hingga 30 Juni 2026 telah mencapai Rp5,5 triliun, sedangkan sepanjang semester I 2026 realisasinya sebesar Rp506,7 miliar, sebagai bagian dari target pembiayaan syariah tahun 2026 sebesar Rp900 miliar.
Lebih lanjut, Krisdianto menjelaskan bahwa kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Dana Bergulir ini dirancang untuk meningkatkan kualitas tata kelola koperasi petani tebu sehingga mampu memenuhi aspek kelayakan pembiayaan dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan. “Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kapasitas pengurus dan manajer koperasi agar mampu mengelola usaha secara profesional, akuntabel, dan berdaya saing. Dengan tata kelola yang semakin baik, koperasi akan lebih siap mengakses pembiayaan LPDB Koperasi untuk memperbesar kapasitas usahanya,” jelasnya.
Menurut Krisdianto, kolaborasi antara koperasi, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan industri menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem gula nasional yang berkelanjutan. “Penguatan ekosistem bisnis koperasi akan melahirkan koperasi yang sehat, modern, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. LPDB Koperasi akan terus hadir mendukung penguatan ekonomi kerakyatan melalui pembiayaan bergulir yang akuntabel, mudah diakses, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani serta kemajuan koperasi Indonesia,” tandasnya.
Melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian, LPDB Koperasi, PT PG Rajawali I, dan koperasi petani tebu, pemerintah optimistis industri gula nasional akan semakin kuat, produktivitas petani meningkat, dan cita-cita swasembada gula secara menyeluruh dapat diwujudkan, sekaligus memperkuat peran koperasi sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional. (zal)
