
TANJUNGPANDAN, hariandialog.co.id – DPRD Kabupaten Belitung menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Pertamina Patra Niaga dan sejumlah pihak terkait guna membahas persoalan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang beberapa pekan terakhir memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di Belitung.
Dalam rapat tersebut terungkap bahwa kelangkaan BBM dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari cuaca buruk yang menghambat distribusi melalui jalur laut, meningkatnya konsumsi Pertalite akibat peralihan pengguna Pertamax, hingga aksi panic buying di tengah masyarakat.
Rapat yang dipimpin Ketua DPRD Belitung, Vina Cristyn Ferani tersebut berlangsung lebih dua jam tersebut meminta agar Pertamina Patra Niaga untuk segera mengatasi kelangkaan itu agar tidak berlarut.
Sementara itu ketika di temui wartawan usai RDP, Sales Branch Manager Rayon II Bangka Belitung Pertamina Patra Niaga, Rafli Alhaq
menyampaikan bahwa masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun Pertamina juga diminta memastikan kebutuhan BBM di seluruh SPBU terpenuhi.
“Kelangkaan ini sudah berlangsung beberapa minggu dan sangat mengganggu aktivitas masyarakat serta perekonomian. Pedagang, pengemudi ojek, usaha rental mobil, hingga masyarakat yang mengantar anak sekolah ikut terdampak,” ujarnya.
Ketua,DPRD, Kabupaten Belitung Vina Cristyn Ferani mengatakan
Sebagai solusi jangka pendek meminta Pertamina Patra Niaga menambah pasokan BBM ke seluruh SPBU serta mengaktifkan kembali Pertashop untuk membantu distribusi dan mengurangi antrean. Vina juga meminta kepolisian melakukan pendampingan di lapangan agar antrean tetap tertib dan mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi.
Sementara untuk solusi jangka panjang, DPRD menilai terminal penimbunan (jobber) Pertamina di Belitung yang dibangun sejak tahun 1960 sudah tidak lagi memadai.ujarnya.
Vina juga menambahkan
Kapasitas tangki penimbunan saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 2,5 hari. Ketika distribusi terganggu akibat cuaca buruk atau pasang surut air laut selama satu hingga dua hari, stok BBM langsung menipis sehingga kelangkaan kembali terjadi.jelasnya.
DPRD pun merekomendasikan agar Pertamina segera merelokasi dan membangun terminal penimbunan baru dengan kapasitas yang mampu memenuhi kebutuhan BBM Belitung untuk 10 tahun ke depan.ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Pertamina Patra Niaga memastikan stok BBM di Belitung saat ini dalam kondisi aman. Kapal pengangkut Pertamax dan Pertalite telah bersandar di Pelabuhan Tanjungpandan, sementara kapal berikutnya yang membawa Pertalite dan Biosolar dijadwalkan tiba pada 22–23 Juli untuk memperkuat pasokan.
Pertamina juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying serta membeli BBM bersubsidi sesuai ketentuan. Pengawasan di SPBU akan diperketat bersama DPRD dan Polres Belitung guna memastikan penyaluran BBM tepat sasaran.
Selain faktor cuaca, Pertamina menjelaskan bahwa konsumsi Pertalite meningkat karena sekitar 10 persen pengguna Pertamax beralih menggunakan Pertalite akibat disparitas harga. Peningkatan jumlah kendaraan yang terdaftar dalam program Subsidi Tepat juga turut mendorong kenaikan konsumsi BBM bersubsidi, pungkasnya.(Fibin)
