Bogor, hariandialog.co.id – Besar jumlah usaha mikro kecil menenfah (UMKM) di tanah air saat ini, tidak diimbangi tata kelola administrasi maupun laporan keuangan yan baik.
“Hal ini kerap menjadi menjadi hambatan bagi usaha mikro karena tidak bisa menghitung keuangan dengan baik khususnya terkait arus kas,” kata Founder PahamSEO Stanley saat menjadi pembiacara pada Forum Group Discussion (FGD) Forum Wartawan Koperasi (Forwakop) di Bogor, Sabtu (18/3).
Dengan jumlah usaha mikro mencapai 60 juta unit usaha, sudah sepatutnya mereka memiliki tata kelola administrasi maupun laporan keuangan yang baik, untuk menunjang usaha mereka.
Bagi usaha mikro, lanjut Stanley, membuat laporan keuangan dianggap sulit dan merepotkan. Padahal tata kelola keuangan sangat penting untuk mengetahui omzet harian maupun bulanan agar bisa melakukan perencanaan pengembangan usaha lebih lanjut.
Menurut Stanley, pengembangkan usaha dengan menggunakan aplikasi laporan keuangan akuntansi sudah sangat diharuskan. Sebab dengan aplikasi semacam itu, usaha mikro dapat memonitoring aktivitas keuangan UKM mereka.
“Aplikasi laporan keuangan akuntansi ini memungkinkan pengguna dapat membuat laporan keuangan dengan lebih cepat dan efisien,” jelasnya.
Dengan pertimbangan kondisi riil tersebut, Kemenkop UKM mengembangkan aplikasi yang disebut LAMIKRO (Laporan Akutansi Usaha Mikro) untuk membantu pelaku usaha mikro membuat sistem laporan keuangan sederhana dan mudah digunakan.
Stanley menambahkan, aplikasi ini dirancang fleksibel dengan banyak pilihan berbasis pengguna. Aplikasi ini juga mampu beradaptasi dengan berbagai prosedur penganggaran dan cukup kuat untuk menggantikan metode tradisional pencatatan manual.
Melalui aplikasi LAMIKRO, jelas Stanley, pelaku usaha mikro dapat menghitung arus kas, belanja, pendapatan dan laba secara mudah. Aplikasi LAMIKRO juga sudah memenuhi standar akutansi Entitas Mikro Kecil dan Menengah yan dikeluarkan oleh Ikatan Akutansi Indonesia.
Sementara itu Agus Yuliawan dari Lembaga Pengembang UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menambahkan keberadaan LAMIKRO sangat membantu kalangan UMKM untuk lebih melek digital, sekaligus membantu mereka dalam menjalankan usahanya, terutama untuk mengembangkan usaha mereka lebih maju dan kekinian.
Selain menghadirkan Stanley, FGD yang dikuti 30 anggota Forwakop ini menghadirkan pembicara Agus Yuliawan dengan tema Isu-Isu Strategis Terkait Aplikasi Keuangan Mikro.
FGD dibuka secara resmi Pejabat Fungsional PTP Ahli Madya, Darmiati, SE. MM, disaksikan Kabag Umum dan Keuangan Deputi Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro KemenKopUKM, Agus Sadarmono.
Pada kesempatan itu Darmiati menjelaskan, LAMIKRO dirasakan sangat penting, karena selama ini pelaku usaha mikro belum memiliki tata kelola administrasi maupun laporan keungan secara baik sehingga kehadiran aplikasi tersebut dianggap memberi kemudahan bagi mereka.
Sementara Ketua Forwakop Syarief Hasan Salampessy mengatakan, FGD yang diikuti sekitar 30 wartawan ini sudah lama direncanakn namun selalu tertunda mengingat kesibukan para narasumber yng berkompeten dalam sosialisasi aplikasi LAMIKRO. Ia berharap, melalui FGD ini akan memberikan literasi mengenai keuangan usaha mikro yang selama ini kinerjanya kurang baik. (zal)
