Jakarta, hariandialog.co.id.- PT Garuda Indonesia (Persero) mengalami keterpurukan yang sangat berat. Pengamat Ekonomi Indef Nailul Huda mengatakan, sektor ini terkontraksi hingga -52% pada triwulan pertama 2021. Sebelumnya lebih parah.
Kondisi ini menurut dia, memang buntut dari kondisi keuangan Garuda Indonesia yang banyak sekali mengeluarkan pembiayaan untuk pesawat karena membuka rute-rute baru terutama internasional yang kadang kalah bersaing dengan maskapai internasional lainnya.
Menurut Pengamat Penerbangan Suharto Abdul Majid, salah satu strategi penyelamatan Garuda Indonesia yaitu dengan membuka pilihan membangun maskapai penerbangan domestik baru.
Bila nanti dibangun maskapai baru akan terdapat beberapa kondisi yang harus dipersiapkan. Pertama, keuntungan baru akan terlihat di tahun ke lima, armada yang digunakan tidak boleh banyak, dan model bisnisnya harus diperbaiki
“Keempat yaitu perusahaan penerbangan tidak perlu direksi yang pintar-pintar. Tapi yang dibutuhkan mental kerja keras, berdedikasi tinggi, dan bersikap profesional. Biasanya yang pintar suka korupsi,” ujarnya.(okzn/halm)
