Jakarta, hariandialog.co.id.- Presiden RI Prabowo Subianto
mengibaratkan perilaku bangsa kita saling menjatuhkan dengan istilah
bangsa kepiting.
Menurutnya, seperti kepiting yang menarik kembali rekannya
ketika berusaha naik, ada sebagian orang yang justru ingin menjatuhkan
ketika melihat orang lain berhasil. “Dikatakan bahwa kita termasuk
bangsa kepiting. Kepiting kalau rekannya sudah naik ke atas, kepiting
yang di bawah nurunin dia lagi. Ada kepiting lain mau naik ke atas,
kepiting lain nurunin dia lagi. Itu namanya senang melihat rekan
susah, susah melihat rekan senang,” katanya.
Dia menyebut sikap iri, dengki, hingga keinginan
mempermalukan sesama bangsa sendiri masih menjadi persoalan yang harus
dihadapi. Prabowo juga menyinggung adanya pihak yang menurutnya
menyebarkan narasi negatif tentang Indonesia melalui media sosial.
“Kampanye di sosmed, “Indonesia kacau”, “Indonesia suram”,
“Indonesia parah, akan kolaps, akan kolaps”. Dia berharap kolaps.
Bayangkan, orang Indonesia sendiri berharap kolaps,” ungkapnya.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti sikap sebagian kalangan
yang dinilai masih kurang menghargai prestasi bangsa maupun orang
lain. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu kekurangan yang
perlu diperbaiki, termasuk di kalangan para pemimpin.
Dia mengatakan para pemimpin di berbagai bidang, mulai
dari teknologi, dunia usaha, politik, pemerintahan, militer,
kepolisian, hingga keagamaan, merupakan kelompok yang memiliki tingkat
pendidikan tinggi.
“Ada sifat kekurangan dari bangsa kita, kadang-kadang kita
kurang menghargai prestasi kita sendiri. Apalagi prestasi rekan-rekan
kita. Kadang-kadang kita tidak hargai prestasi anak buah kita. Ada
keanehan, keanehan,” katanya saat menghadiri peluncuran Program
Mandatori Biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026
Presiden menduga sikap tersebut berkaitan dengan rasa rendah
diri yang muncul akibat pengalaman panjang bangsa Indonesia berada di
bawah penjajahan asing. Prabowo menyebut kondisi itu sebagai
inferiority complex atau rasa minder yang perlu dikoreksi.
“Mungkin ini adalah sudah terlalu lama dijajah oleh Belanda, oleh
asing, sehingga yang timbul adalah rasa rendah diri, merasa rendah,
minder, inferiority complex. Kita koreksi,” ujarnya, tulis idntimes.
(tob)
