Bengkulu,hariandialog.co.id – Kehidupan nelayan tradisional di Provinsi Bengkulu masih dalam kondisi memprihatinkan, apalagi dalam musim hujan lebat dalam awal Juli 2022. Ribuan nelayan tradisional tidak bisa melaut karena gelombang laut tinggi. Sementara kebutuhan ekonomi keluarga harus dipenuhi, bahkan ironisnya akibat hujan lebat beberapa hari di Kota bahkan Provinsi Bengkulu telah mengakibatkan ribuan perumahan nelayan yang berada dipinggir sungai atau tepi laut terendam banjir. Seperti di Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma, Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Utara.
Meski ada berbagai bantuan pemerintah namun tidaklah mencukupi, menyikapi keprihatinan terhadap kehidupan nelayan di Provinsi Bengkulu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Bengkulu, Sri Hartati melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan P2HP, Hidayatullah, SPi, M,Si menjelaskan bahwa masalah banjir akibat hujan lebat itulah masalah kejadian alam yang tak bisa dihindari. Namun yang perlu diperhatikan semua nelayan bulan apa yang baiknya mereka melaut dengan stok ikan yang banyak. Karena pihaknya belum punya data valid baiknya nelayan melaut dengan aman, karena baiknya melaut bulan Juli sampai Desember jika nelayan melaut bulan Januari sampai Juni kondisi ikan minim dan gelombang tinggi Samudera Hindia.
Memprihatinkan nelayan tradisional di Provinsi Bengkulu khususnya Kota Bengkulu seperti di Pasar Bengkulu, sarana tangkap semacam kapal yang mereka miliki hanya 5 GT dengan jarak tangkap di laut 200 meter ke tengah laut. Karena jika ke tengah laut ombak lebih tinggi yang membahayakan kapal nelayan tradisional. Lanjut Hidayat bahwa gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sudah berencana memberi bantuan kapal besar untuk nelayan di Provinsi Bengkulu dengan mengusulkan anggaran ke Kementerian DKP sumber dana APBN. Untuk membantu kelompok-kelompok nelayan di Provinsi Bengkulu.
Disesalkan Kabid, banyak nelayan di Kota Bengkulu kurang berpikir panjang jika mendapat tangkapan ikan yang banyak, karena penghasilan yang sewaktu-waktu banyak dan uang besar. Nelayan dinilai tidak menyimpan untuk persediaan jika tidak melaut, sebab itu ke depan Hidayatullah berharap nelayan harus mempersiapkan persediaan dana jika tidak sedang melaut dalam jangka waktu lama karena alam seperti gelombang tinggi atau hujan lebat. Dalam prediksinya bulan Juli ke atas tangkapan nelayan akan banyak karena tidak lagi musim hujan.
Diakuinya nelayan-nelayan tradisional dengan kapal 5 GT memang banyak namun nelayan yang memiliki kapal-kapal besar di atas 5 GTmasih sedikit dan mereka para pemilik kapal besar menangkap ikan jauh ke tengah laut bahkan sampai ke laut Provinsi terdekat. Pihaknya juga berencana akan mengajukan ke Kementerian KP agar kapal trawl bisa diberi perlakuan khusus memang selama ini penggunaan kapal trawl di Provinsi Bengkulu sering terjadi bentrok dengan nelayan tradisional. Ia memberi saran agar kapal trawl di modifikasi agar jaring yang dibelakang kapal sedikit dijarangkan sehingga ikan-ikan kecil bisa lewat saat jaring ditebar. (hasanah)
