Bengkulu,hariandialog.co.id/ Dialog – Banjir besar yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, telah menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi warga yang terdampak. Karena selain rumahnya terendam banjir, dan perabotan rumah yang rusak tidak ada ganti rugi dari pemerintah daerah. Apalagi banjir kiriman yang dialami warga Kota Bengkulu terus berulang lima tahun terakhir.
Banjir kiriman dari Kabupaten Bengkulu Tengah yang tidak terkendali ditenggarai kuat akibat penambangan batubara, karena terjaidnya kerusakan hutan dan perkebunan sawit menyebabkan daerah resapan air rusak parah.
Kondisi demikian mengakibatkan air dari perbukitan Kabupaten Bengkulu Tengah yang mengalir ke Sungai Bengkulu Kota Bengkulu tidak tertampung dan menjadi air ‘bah’ yang merendam ribuan rumah warga Kota Bengkulu yang berada berdekatan dengan bantaran bibir sungai dan daerah rendah. Banjir besar terjadi jika intensitas hujan lebat lebih dari dua hari, air bukan hanya merendam rumah warga, juga merendam sekolah, masjid, dan kantor Lurah dengan ketinggian air 1 – 2 meter. Selain itu juga merusak jalan dan jembatan akibat tergerus air yang mengalir deras bahkan sejumlah tanaman pinggir sungai juga ikut hanyut terbawa air sungai yang deras.
Beberapa Kecamatan di Kota Bengkulu yang terendam banjir diantaranya, Kecamatan Sungai Serut, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kecamatan Selebar, Kecamatan Kampung Melayu dan Kecamatan Ratu Agung.
Berdasarkan catatan BPBD Provinsi Bengkulu, rumah warga yang terendam banjir di Kota Bengkulu mencapai 4.550 lebih yang berada di empat kecamatan dalam Kota Bengkulu. Ironisnya, banyak juga rumah warga yang berada di pesisir sungai dan daerah rendah tidak terdata oleh BPBD sehingga warga sangat mengeluhkan tidak adanya bantuan atau perhatian pemerintah setempat, seperti yang dialami warga RT 30 – RT 33 Sawah Lebar Baru Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu. Puluhan rumah n warga yang terendam air mencapai 1-1,5 meter akibat banjir kiriman yang datang tiba-tiba membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda bahkan surat menyurat seperti ijazah dan pakaian.
Mereka terpaksa mengungsi menyelamatkan diri di rumah keluarga yang aman atau masjid yang berada di wilayah lebih tinggi. Sementara mereka membuat tenda pengungsi darurat dan patungan membeli makanan. Diakui warga RT 30, Sukri, setiap banjir kiriman melanda permukiman mereka memang jarang mendapat perhatian atau bantuan pemerintah. Karena petugas BPBD maupun Satpol PP lebih memperhatikan banjir yang terjadi pada rumah warga yang berada kelihatan dari jalan terendam banjir. Akibatnya mereka terpaksa mengatasi berbagai persoalan banjir dan makanan secara bersamaan.
Kejadian serupa juga pernah mereka alami waktu tahun 2018 banjir bandang kiriman melanda rumah mereka dengan ketinggian air 2-3 meter sehingga semua perabotan rumah warga rusak dan warga mengalami kerugian jutaan rupiah. Namun tidak ada bantuan Pemerintah Provinsi maupun Kota. Semua kerugian mereka atasi sendiri, padahal jelas-jelas air kiriman dari Kabupaten Bengkulu Tengah akibat kelalaian Pemerintah yang membiarkan penambangan puluhan perusahaan batubara, perkebunan sawitdan alih fungsi lahan pertanian.
Sebab itu warga hanya berharap agar Pemerintah tegas terhadap pengusaha pertambangan batubara dan perkebunan serta memikirkan nasib mereka yang selalu terdampak banjir bandang kiriman jika hujan lebat terjadi.Berdasarkan catatan BPBD Provinsi seperti disampaikan Kabid Tanggap Darurat, Khristian Hermansya, selain Kota Bengkulu banjir bandang juga melanda sejumlah kabupaten diantaranya, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Bengkulu Selatan. Untuk wilayah terparah Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu.rumah warga yang terdampak di Kabupaten Seluma mencapai 2.561. Akibat banjir besar tersebut kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah. (hasanah)
