
Jakarta, hariandialog.co.id.- Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta maupun Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan hingga berita ini diturunkan belum ada tanda tanda untuk melakukan pemeriksaan terhadap Satuan
pelaksana Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pasar Minggu.
Padahal, sudah beberapa kali diberitakan dan disampaikan langsung baik kepada Asisten Intelijen Kejati DKI Jakarta maupun Kasi Intel Kejari Jakarta Selatan, terkait pungutan liar yang dilakukan pejabat Satpel LH dan Kebersihan Kecamatan Pasar Minggu, terhadap para pengumpul dan pembawa sampah warga baik menggunakan gerobak Tarik, gerobak motor maupun kendaraan roda empat jenis Pick Up.
Seperti pengakuan dari para pembuang sampah warga baik yang menggunakan gerobak yang ditarik manusia, gerobak motor maupun kendaraan Pick Up, pungutan ditetapkan untuk gerobak Rp.400 ribu
perbulan dan gerobak motor Rp.500 ribu serta yang menggunakan kendaraan mobil Pick Up antara Rp.1 juta dan ada ditarik alias dipungut Rp.1,5 juta.
Atas ungkapan para pembuang sampah itu, redaksi mempertanyakan kepada Kepala Satpel Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kecamatan Pasar Minggu di kantornya di belakang kantor Kelurahan
Pejaten Barat, membenarkan pungutan tersebut tanpa tanda terima kepada pemberi. “Benar itu ungkapan mereka dan uang tersebut buat bayar kewajiban ke Kas Daerah dalam hal ini Pemda DKI Jakarta yang
membebankan biaya retribusi kebersihan pertahan Rp.1 miliar. Jadi yang disamping bayar retribusi juga operasional hari-harian,” jelas Dadang.
Keluhan para pembuang sampah warga itu, menceritakan disamping uang bulanan masih ada harian yang dikeluarkan khususnya untuk biaya menaikkan sampah ke atas truk. “Benar ada sofel alat berat
untuk menaikkan sampah ke atas truk tapi jarang untuk itu. Jadi kita harus ngasih kepada petugas swasta untuk menaikkan sampah yang kita bawa. Kalau tidak ada uang tip tidak akan dinaikkan ke atas truk
sampai kapanpun,” terangnya.
Memang, untuk meringankan pembayaran kita ambil dari sehari harinya memilah-milah sampah warga seperti plastik dan kertas berupa karton-karton. “Kita langsung jual di tempat karena sudah ada
orang yang menampung barang bekas itu. Jadi kita bayar menggunakan uang sampah pilihan. Habis mau apa lagi. Cari kerjaan susah yah terpaksa harus begini mengangkut sampah warga walau baud dan bayar
lagi,”ungkapnya.
Sementara itu diceritakan juga bahwa petugas pembeli sudah siap dengan timbangan dan kendaraan untuk membawa plastic, kertas kardus menggunakan truk sampah khusus warga hijau. “Itu tuh truknya
sudah menaikkan sampah yang kita jual,” tutur pria mengangkut sampah warga yang tidak mau menyebutkan jati dirinya karena takut. (tim-01)
