Padang, hariandialog.co.id.- Proyek pengadaan sapi dan kambing di
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Barat disorot. Sejumlah
hewan ternak yang dibagikan untuk Kelompok Tani (Poktan) mati beberapa
saat setelah dikirim.
“Kelompok kami menerima bantuan 40 ekor kambing. Dari 40
ekor itu, saat ini posisinya sudah 12 ekor yang mati,” kata Alzefri,
Wakil Ketua Kelompok Tani (Keltan) Saiyo, Aia Pacah, Kecamatan Koto
Tangah Padang, kepada detikcom, Selasa (4/1/2022).
Poktan Saiyo merupakan salah satu yang menerima bantuan dalam
bentuk hewan ternak. Proses bantuan dilakukan dengan memanfaatkan dana
Pokir (Pokok Pikiran) anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat yang
dititipkan melalui OPD (Organisasi Pemerintah Daerah) terkait.
Menurut Alzefri, bantuan kambing itu tidak sesuai dengan
yang diharapkan. Dalam hitungan minggu, ternak sudah berkurang karena
sakit dan mati mendadak.
“Beberapa ekor mati akibat sakit, Sebagian lain terpaksa di sembelih
karena sudah dalam keadaan sekarat. Sakit,” kata Alzefri.
Meski bersyukur karena terpilih sebagai salah satu penerima, namun
Alzefri mengaku pihaknya kecewa dan tidak puas. Bahan untuk kebutuhan
kandang tidak dicukupkan oleh dinas terkait. “Untuk kebutuhan atap,
semen dan kayu hanya sedikit. Kami harus mengeluarkan uang lagi,”
katanya.
Keluhan kelompok tani tersebut sampai ke telinga anggota dewan. Ketua
Fraksi Partai Gerindra DPRD Sumbar, Hidayat meminta persoalan tersebut
diusut tuntas dan evaluasi menyeluruh terhadap persoalan pengadaan
ini, mulai dari perencanaan, pelelangan hingga pelaksanaan.
“Kami menerima banyak laporan terkait pengadaan ternak ini, yang
bersumber dari dana Pokir anggota DPRD. Bukan hanya soal kambing
kambing mati mendadak, atau ternak unggas berupa itik yang tidak
optimal tapi juga soal sapi. Pengadaan sapi tidak terlaksana sesuai
dengan seharusnya. Sapi yang datang kurus-kurus. Kurus kerempeng,”
kata Hidayat kepada wartawan.
“Fraksi Gerindra meminta kasus ini diusut tuntas dan rekanannya
ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. Umumkan kepada publik siapa
rekanannya, dalam rangka standar dan transparansi publik,” kata dia.
Juru bicara Pemprov Sumbar Jasman menjelaskan, pengadaan ternak,
khususnya sapi, telah sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang
berlaku, sesuai spesifikasinya dan dilaksanakan melalui lelang
terbuka, yang tidak ada campur tangan dinas Peternakan dan Keswan,
apalagi campur tangan Gubernur atau Wakil Gubernur.
“Dalam hal ini dipastikan Gubernur, Wakil Gubernur tidak ikut
campur dalam proses pelelangan apalagi menentukan pemenang lelang
dimaksud. Dinas Peternakan dan Keswan Sumbar hanya menyiapkan
spesifikasinya sesuai kebutuhan,” kata Jasman dalam penjelasan
tertulis yang diterima detikcom, Selasa (4/1/2021).
Menurut Kadis Kominfo Sumbar itu, sapi yang baik untuk calon indukan
memang sebaiknya tidak gemuk karena akan sulit hamil.
“Adanya anggapan bahwa sapi yang diserahkan adalah sapi yang tidak
berkualitas karena kurus, dapat kami jelaskan, bahwa sapi yang baik
untuk calon indukan memang sebaiknya tidak gemuk karena akan sulit
hamil.
Proses pengiriman sapi misalnya dari Pulau Jawa, serta
adanya perbedaan iklim dan perlakuan juga bisa membuat penyusutan
bobot sapi. “Di situlah kemudian tugas kelompok untuk merawatnya
dengan baik hingga bobotnya bisa kembali normal, sehat, birahi, kawin
lalu bunting dan melahirkan.
Terkadang, dalam proses pengiriman ternak, misalnya dari
pulau Jawa, juga bisa terjadi penyusutan berat badan ternak. Hal ini
bisa dikarenakan stres dan atau perbedaan iklim,” kata Jasman.
Ia menjelaskan, sepanjang 2021, Pemprov Sumbar melalui Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan telah memberikan bantuan pengembangan
sapi lokal untuk 131 kelompok yang tersebar di seluruh kabupaten kota
di Sumbar, kecuali Kepulauan Mentawai, Kota Padang Panjang dan Kota
Bukittinggi. Masing-masing kelompok mendapat 12 ekor sapi. Ada 51
kelompok yang menerima bantuan sapi jenis sapi crossing, dengan jumlah
bantuan 10 ekor sapi per kelompok.
Jasman tidak merinci besaran bantuan untuk kelompok penerima
hewan kambing. Namun dari dokumen yang diterima detikcom, bantuan
untuk kelompok kambing adalah masing-masing Rp 200 juta per kelompok.
Itu dimaksudkan untuk bantuan kambing peranakan Etawa, bahan kendang,
pakan konsentrat, obat-obatan, dan vitamin serta bimbingan teknis.
Sedangkan bantuan Sapi Brahman Cross atau Simmental dan sapi
lokal, nilainya masing-masing kelompok Rp 350 juta.Belum ada
penjelasan resmi total anggaran yang digunakan untuk bantuan ini.
Namun diperkirakan angkanya ada di Rp 50-60 miliar. (bing)
