Jakarta, hariandialog.co.id.- Penggemar musik heavy metal memakai simbol tiga jari sebagai identitas kelompok. Mereka mengacungkan tiga jari, jempol, telunjuk, dan kelingking yang melambangkan kepala, badan, dan tanduk.
Simbol tiga jari disebut sebagai The Sign of Horns, isyarat tanduk, yang sering diasosiasikan sebagai simbol setan. Bagi para rocker, simbol tiga jari melambangkan solidaritas dan setia kawan.
Unjuk rasa peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 ditandai dengan munculnya simbol tiga jari yang diacungkan oleh para mahasiswa. Simbol tiga jari, three finger salute, bukan salam metal ala rocker. Para pendemo mengacungkan tiga jari, telunjuk, tengah, dan jari manis, sebagai simbol solidaritas, kebebasan, keadilan, dan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memenuhi harapan masyarakat.
Musisi Budi Rahardjo, gitaris “Drive” ikut menyuarakan kritik dalam aksi demonstrasi bersama mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta Pusat (28/10/2026).
Aksi yang melibatkan berbagai organisasi mahasiswa ini menunjukkan bahwa simbol sederhana dapat menjadi sarana komunikasi politik yang kuat, sekaligus mencerminkan hubungan antara solidaritas sosial dan demokrasi.
Sosiolog Émile Durkheim, dalam teori solidaritas sosial, menjelaskan bagaimana masyarakat dipersatukan oleh nilai, kepercayaan, dan kesadaran bersama. Durkheim membedakan solidaritas mekanik, yang terbentuk melalui kesamaan nilai dan identitas, dengan solidaritas organik, yang berkembang karena saling ketergantungan dalam masyarakat modern.
Simbol tiga jari menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif terhadap lima tuntutan itu. Mahasiswa, buruh, petani, dan kelompok masyarakat sipil memiliki latar belakang berbeda, tetapi mereka dipersatukan oleh tuntutan mengenai keadilan, pendidikan, kesejahteraan, dan perlindungan hak asasi manusia. Simbol tiga jari mengubah keresahan individual menjadi ekspresi kolektif.
Simbol tiga jari juga memiliki dimensi budaya populer yang kental. Gestur ini dikenal luas melalui The Hunger Games, sebuah film yang menceritakan perlawanan gadis muda Jennifer Lawrence yang hidup di negara distopia bernama Panem, yang dipimpin oleh Presiden Snow yang represif.
Gestur tiga jari digunakan oleh gerakan pro-demokrasi di Thailand, Myanmar, dan Hong Kong. Simbol itu melampaui batas negara dan bahasa, dan memperoleh makna politik sesuai konteks lokal.
Simbol budaya popular lain yang menjadi inspirasi gerakan unjuk rasa adalah simbol bajak laut bertopi jerami dari manga dan anime One Piece. Simbol Jolly Roger milik kelompok Bajak Laut Topi Jerami diadopsi di Indonesia pada 2025.
Sejumlah mahasiswa, seniman, dan aktivis memakai simbol bajak laut sebagai ekspresi kritik terhadap korupsi, pengangguran, serta sejumlah kebijakan yang tidak pro rakyat. Simbol yang sama kemudian muncul dalam demonstrasi di Nepal dan sejumlah lokasi di Eropa.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa generasi muda mampu menggunakan budaya populer untuk menyampaikan pesan politik secara kreatif. Ketika kepercayaan terhadap saluran komunikasi formal melemah, simbol visual dapat menjadi bahasa alternatif untuk menarik perhatian publik dan membangun identitas gerakan.
Dalam demonstrasi 28 Oktober 2026, lima tuntutan yang disampaikan mahasiswa mencakup penanganan bencana ekologis, pengelolaan anggaran negara yang berpihak kepada rakyat, penurunan biaya pendidikan dan pemerataan layanan dasar, pemberantasan korupsi serta penyalahgunaan hukum, dan perlindungan hak asasi manusia serta demokrasi.
Tuntutan dikemas dalam slogan “Tepati atau Pergi”. Pesannya menyindir tajam, tepati semua tuntutan itu, atau pergi saja. Prabowo yang sering menyindir pemrotes supaya pergi dari Indonesia, kali ini justru diusir oleh para pemrotes. Secara implisit tuntutan itu bisa berarti tepai atau tinggalkan jabatan kepresidenan.
Lima tuntutan ini melengkapi tuntutan yang disampaikan pada unjuk rasa yang berakhir rusuh pada Agustus 2025. Ketika itu mahasiswa mengajukan tuntutan ‘’17 plus 8’’ sebagai simbol tanggal dan bulan kemerdekaan. Setahun berlalu dan tuntutan itu hilang ditiup angin lalu.
Simbol tiga jari bukan sekadar gestur tangan. Simbol itu melambangkan hubungan antara solidaritas sosial, kebebasan berekspresi, dan tanggung jawab politik. Simbol itu dapat memperkuat kesadaran kolektif di tengah masyarakat yang menghadapi penderitaan yang sama.
Simbol tiga jari menunjukkan bahwa mahasiswa dan generasi muda terus menciptakan cara baru untuk menyampaikan kritik. Simbol itu bukan sekadar isyarat perlawanan, melainkan tuntutan agar kekuasaan mau mendengar, tulis raya times. (m.aan-01)
