Jakarta, hariandialog.co.id.- Pejabat tertinggi
pengendalian penyakit China mengaku, vaksin virus corona buatan China
memiliki keefektifan yang rendah. Pertimbangan untuk mencampurkan
vaksin yang ada di China dengan vaksin lain berbasis mRNA pun muncul.
“Vaksin China tidak memiliki perlindungan yang sangat tinggi,” kata
direktur Pusat Pengendalian Penyakit China, Gao Fu pada
konferensi pers yang dilakukan Sabtu (10/4/2021) di Chengdu.
Ini adalah pengakuan yang jarang terjadi terkait
kelemahan vaksin yang diproduksi suatu negara. Gau juga mempertanyakan
keefektifan vaksin buatan Pfizer-BioNTech yang dibuat menggunakan
mRNA. “Sekarang kami mempertimbangkan, apakah harus menggunakan vaksin
yang berbeda (mencampurkan vaksin) dari jalur teknis untuk imunisasi,”
kata Gao. Dalam konferensi pers hari Minggu (11/4/2021), pejabat China
tidak menanggapi secara langsung pernyataan Gao atau kemungkinan
perubahan dalam jalur teknis imunisasi.
Namun, pejabat CDC lainnya mengatakan pengembang vaksin
sedang mengerjakan vaksin berbasis mRNA. Dilaporkan AP News, Gao tidak
menanggapi panggilan telepon yang meminta komentar lebih lanjut.
“Vaksin mRNA yang dikembangkan di negara kami juga telah memasuki
tahap uji klinis,” kata pejabat lain Wang Huaqing. Kendati sudah masuk
tahap uji klinis, Huaqing tidak dapat memprediksi kapan vaksin
berbasis mRNA yang dibuat akan dapat digunakan.
Para ahli mengatakan, mencampurkan vaksin atau imunisasi
berurutan (dua vaksin berbeda) dapat meningkatkan efektivitas. Para
peneliti Inggris sedang mempelajari kemunginan kombinasi
Pfizer-BioNTech dan vaksin AstraZeneca. Industri obat China Pandemi
virus corona, yang dimulai di China pada akhir 2019, menandai pertama
kalinya industri obat China berperan dalam menanggapi keadaan darurat
kesehatan global.
Vaksin yang dibuat oleh Sinovac, sebuah perusahaan
swasta, dan Sinopharm, sebuah perusahaan milik negara, telah
mendistribusikan sebagian besar vaksin China ke belasan negara
termasuk Meksiko, Turki, Indonesia, Hongaria, Brasil dan Turki.
Efektivitas vaksin Sinovac dalam mencegah infeksi gejala ditemukan
serendah 50,4 persen oleh para peneliti di Brasil. Ini mendekati
ambang batas 50 persen, yang ditetapkan para ahli kesehatan dan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebagai perbandingan, vaksin Pfizer-BioNTech terbukti
97 persen efektif. Pakar kesehatan mengatakan vaksin China kemungkinan
tidak akan dijual ke Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang karena
kerumitan proses persetujuan. Vaksin China dan mRNA Juru bicara
Sinovac, Liu Peicheng, mengakui berbagai tingkat keefektifan telah
ditemukan. Dia berkata, hal ini disebabkan oleh faktor usia, jenis
virus, dan faktor lainnya.
China belum menyetujui vaksin asing untuk digunakan di
China. Gao tidak memberikan rincian kemungkinan perubahan dalam
strategi tetapi menyebut mRNA sebagai kemungkinan. “Setiap orang harus
mempertimbangkan manfaat vaksin mRNA bagi umat manusia,” kata Gao.
“Kita harus mengikutinya dengan hati-hati dan tidak mengabaikannya
hanya karena kita sudah memiliki beberapa jenis vaksin.”
Dikutip dari Kantor Berita Xinhua, pada bulan Desember
Gao mengatakan tidak dapat mengesampingkan efek samping negatif vaksin
mRNA karena ini digunakan untuk pertama kalinya pada orang sehat.
Media pemerintah China dan blog kesehatan dan sains populer juga
mempertanyakan keamanan dan efektivitas vaksin Pfizer-BioNTech.
Pada 2 April, sekitar 34 juta orang di China telah
menerima kedua dosis yang diperlukan untuk vaksin China dan sekitar 65
juta menerima satu dosis. “Penelitian menemukan, perlindungan mungkin
lebih baik jika waktu antara vaksinasi lebih lama dari 14 hari saat
ini. Tetapi tidak memberikan indikasi yang mungkin dijadikan praktik
standar,” kata juru bicara Sinovac, Liu. Catatan redaksi Banyak kantor
berita Barat yang memberitakan kabar ini.
Namun sebagai catatan, Gao Fu telah mengklarifikasi
bahwa ada kesalahpahaman total terkait vaksin Covid-19 China ini.
Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China itu
mengklarifikasi bahwa dirinya sebenarnya ingin mengusulkan visi ilmiah
untuk meningkatkan kemanjuran vaksin.
Dalam wawancara eksklusif dengan Global Times, usulan
yang ditawarkan Gao yakni, penyesuaian prosedur vaksinasi dan
inokulasi dari jenis vaksin yang berbeda. “Tingkat perlindungan semua
vaksin di dunia beragam, terkadang tinggi dan terkadang rendah.
Bagaimana meningkatkan kemanjurannya merupakan pertanyaan yang perlu
dipertimbangkan para ilmuwan di seluruh dunia,” kata Gao.
“Dalam hal ini, saya menyarankan agar kita dapat
mempertimbangkan untuk menyesuaikan proses vaksinasi, seperti jumlah
dosis dan interval, juga mengadopsi vaksinasi berurutan dengan
berbagai jenis vaksin,” imbuhnya dilansir Global Times, Minggu
(11/4/2021). Gao menekankan, karena ini adalah pertama kalinya manusia
mengenal Covid-19, ada banyak masalah ilmiah yang harus dipelajari
terkait vaksinasi.
“Ini juga pertama kalinya manusia divaksinasi dengan
vaksin novel coronavirus (virus corona SARS-CoV-2). Semua prosedur
vaksinasi yang kami adopsi sejauh ini didasarkan pada ekstrapolasi
inokulasi vaksin virus lain sebelumnya, dan ekstrapolasi itu telah
bekerja dengan cukup baik,” kata Gao. “Namun ke depan, jika perlu
melakukan perbaikan, kami dapat melakukan penyesuaian berdasarkan
karakteristik virus corona baru dan situasi vaksinasi.”
(kompas.com/redstu).
