Kasus Penculikan Kacab BRI
Jakarta, hariandialog.co.id.- Polisi Polda Metro Jaya menangkap
pelaku satu lagi yang dianggap turut serta dalam kasus penculikan dan
pembunuhan Kepala Cabang Pembantu BRI Muhammad Ilham Pradipta.
Kuasa hukum keluarga korban, Boyamin Saiman mengatakan, ada
satu klaster baru pelaku yang berperan sebagai perayu. “(Klaster)
perayu yang bertemu (korban) tiga hari sebelum penculikan, sudah saya
sampaikan itu,” kata Boyamin pada Selasa, 21 Oktober 2025.
Boyamin menuturkan, almarhum Ilham tiga hari sebelum
diculik sempat ditemui oleh tiga orang di salah satu minimarket.
Komplotan tersebut salah satunya bernama Deni, sedangkan dua lainnya
adalah R dan W.
Menurut Boyamin, para pelaku ketika itu sempat membujuk
korban untuk membantu mereka membobol bank. Namun rayuan tersebut
tidak dipedulikan dan Ilham tetap menolak untuk bekerja sama melakukan
pembobolan bank.
Setelah gagal, ketiga pelaku kemudian melapor kepada Dwi
Hartono yang kemudian kembali meneruskan informasi tersebut kepada
Candy alias Ken. “Karena almarhum itu tidak mau (bekerja sama) ya
sudah, otomatis akan dihilangkan,” tutur Boyamin kepada para wartawan.
Polda Metro Jaya sebelumnya telah menetapkan 15 orang yang
terlibat kasus pembunuhan Ilham Pradipta mulai dari rangkaian
penculikan dan penganiayaan ini sebagai tersangka. Para pelaku dibagi
ke dalam empat klaster, yaitu yaitu auktor intelektualis, penguntit
atau surveillance, penculik, serta penganiaya.
Dalam kluster otak kejahatan, ada empat orang pelaku yang
berhasil ditangkap, yaitu adalah Candy alias Ken, Dwi Hartono, Yohanes
Joko P, serta Antonius M. “C alias K mengajak DH mencari kepala cabang
bank untuk diajak bekerjasama memindahkan uang dari rekening dorman,”
kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar
Wira Satya Triputra, Selasa, 16 September 2025.
Para otak kejahatan tersebut kemudian menyerahkan pekerjaan
untuk menculik korban kepada Sersan Kepala Mohamad Nasir. Serka Nasir
lalu mengajak rekannya sesama prajurit Kopassus, Kopral Dua Feri
Herianto, untuk ikut serta.
Kopda Feri kemudian mulai membentuk tim penculikan dengan
menemui Erasmus Wawo di sebuah pusat perbelanjaan di Pasar Rebo,
Jakarta Timur. Di sana telah berkumpul pula pelaku penculikan lainnya,
yaitu Andre Tomatala, Emanuel Woda Berto, Ronald Sebenan, dan
Reviando.
Sementara itu, klaster terakhir merupakan tim pengintai
yang berjumlah tiga orang. Mereka adalah Rohmat Sukur yang merupakan
tangan kanan Dwi Hartono, serta Eka dan Wiranto. “Tim yang akan
mencari alamat dan membuntuti korban,” kata Wira dalam konferensi
pers.
Sementara itu, kluster terakhir yang merupakan pelaku
penganiayaan berjumlah empat orang. Keempatnya adalah Yohanes Joko P,
Serka Nasir, David, dan Neo yang berada dalam mobil Fortuner tempat
korban dipukuli hingga akhirnya tewas, tulis tempo. (tur-01)
