Jakarta, hariandialog.co.id.- CENTER for Economic and Law Studies atau
Celios mengkritik ucapan Presiden Prabowo Subianto soal pengamat yang
tidak patriotik.
Menurut Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira, tudingan
itu adalah bentuk sikap paranoid Prabowo terhadap perbedaan pendapat
di masyarakat.
Bhima mengatakan Prabowo tidak seharusnya memperlakukan
kritik sebagai ancaman. “Ini merupakan sikap paranoid terhadap
dissenting opinion (pandangan berbeda),” kata Bhima saat dihubungi
pada Ahad, 15 Maret 2026.
Bhima berujar, ancaman bagi peneliti, termasuk Celios,
meningkat di bawah kepemimpinan Prabowo. Ancaman itu, kata dia,
semakin intens di ruang digital. “Seminggu terakhir narasi lembaga
riset didanai asing dan tidak patriotik seolah makin intens,” ucapnya.
Celios, kata dia, merasakan semakin banyak ancaman di ruang
digital setelah mereka melakukan riset soal makan bergizi gratis dan
perjanjian dagang Indonesia-Amerika Serikat. Bhima memandang fenomena
tersebut sebagai bagian dari upaya untuk membungkam pengamat yang
kritis.
Menurut Bhima, pemerintah harusnya senang karena ada
lembaga-lembaga sipil yang mau meriset kebijakan tanpa menggunakan
anggaran negara. “Seharusnya data itu bisa digunakan untuk pengambilan
kebijakan, tapi malah diancam,” tuturnya.
Bhima menilai ucapan Prabowo soal pengamat tak patriotik
adalah alarm bagi kebebasan akademik. “Akademisi jadi takut menulis
kritik kebijakan, dan ruang dialog seakan ditutup,” ucap dia.
Celios, kata Bhima, juga merasakan ada sejumlah media yang
membatasi Celios sebagai narasumber. Alasannya beragam, dari mencari
ekonom yang pro pemerintah hingga dilarang oleh atasan, tulis tempo.
(pitta-01)
