
Bandung Barat, hariandialog.co.id-
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pasti menemui jalan terjal. Begitu pula yang dialami SPPG Pangauban milik Hendrik Irawan di Kabupaten Bandung Barat. Suspensi dari Badan Gizi Nasional (BGN) karena persoalan infrastruktur, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan sirkulasi udara yang sempat menjadi ujian berat. Namun, daripada larut dalam kesalahan, yang terjadi justru sebuah gerakan perbaikan kolektif. Pemilik, chef, sekolah, pesantren, dan guru sama-sama mengambil hikmah mencoba merangkum sisi-sisi terang dari proses bangkit kembali dapur SPPG Pangauban, dengan mendengarkan suara-suara negatif maupun positif untuk kemajuan bersama.
Hendrik Irawan selaku pemilik sekaligus Owner SPPG Pangauban Kritik Adalah Motivasi, Bukan Beban ( 22/04/2026 ).
Ia berulang kali menyatakan kesiapan menerima kritik. “Kami 100% siap dikritik. Jangankan oleh wartawan, oleh masyarakat umum pun kami siap. Kritik dari masyarakat maupun netizen saya anggap sebagai motivasi,” ujarnya dengan nada rendah namun tegas. Baginya, kritik lebih berharga daripada pujian karena membantu berkembang. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dalam mengelola pelayanan publik.

Hendrik juga mengakui bahwa BGN telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan hasilnya dijadikan pijakan evaluasi. “Setiap kejadian menjadi pelajaran bagi kami untuk terus memperbaiki diri. Apabila terjadi hal yang tidak diinginkan, kami siap bertanggung jawab penuh,” katanya. Ia tidak lari dari fakta. Yang menarik, ia justru berharap ke depan sistem SPPG Pangauban bisa menjadi contoh bagi SPPG lain. Sebuah cita-cita yang lahir dari tekad memperbaiki, bukan dari kesombongan” Ucapnya.
Dari segi komitmen, Hendrik menyebut bahwa dengan anggaran sekitar Rp10.000 per porsi, SPPG-nya tetap menyediakan daging sapi dua kali seminggu dan susu tiga kali seminggu. “Kami berusaha mengolah makanan dengan resep yang profesional dan berkualitas,” jelasnya. Ia juga membuka peluang bagi pesantren dan semua pihak yang membutuhkan. Inklusivitas seperti ini patut diapresiasi.
Kehadiran Chef Profesional: Berbagi Ilmu, Bukan Sekadar Memasak
Salah satu langkah perbaikan paling konkret adalah direkrutnya chef-chef berlatar belakang hotel berbintang lima dan kapal pesiar internasional. Dwi Purnomo, Executive Chef dari perusahaan Jerman yang sedang liburan, diajak untuk menjadi Chef paruh waktu di dapur milik Hendrik. Ia menegaskan bahwa akar masalah suspensi adalah infrastruktur, bukan kualitas makanan atau niat buruk. “Permasalahan yang terjadi bukan mengarah pada hal-hal lain, melainkan lebih kepada aspek infrastruktur yang pada saat itu memang belum sepenuhnya memenuhi standar,” katanya jujur.

Dwi tidak hanya datang untuk memasak. Ia ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan. “Kehadiran kami di sini memiliki satu tujuan, yaitu meningkatkan kualitas program MBG agar semakin baik,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa Hendrik sangat mengutamakan bahan makanan berkualitas. “Sebagai contoh, dalam satu minggu terdapat penyediaan daging sapi sebanyak dua kali dan susu sebanyak tiga kali. Hal tersebut menunjukkan komitmen yang cukup besar,” tambah Dwi.
Susanto (Ahong), Head Chef Dapur 2, mengaku senang bisa berkolaborasi dengan Chef yang pengalamannya lebih luas. “Kami bisa saling bertukar pengetahuan serta teknik baru,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya harmoni dengan ahli gizi. “Kami menjelaskan secara rinci mengenai teknik pengolahan makanan, sehingga akhirnya dapat menghasilkan menu yang baik dan sesuai standar gizi. Intinya adalah kolaborasi,” tuturnya. Sementara Bimbim, chef Dapur 3, dengan tulus menyatakan bahwa kondisi dapur sangat baik, fasilitas memadai, dan ia betah bekerja di sana. “Harapannya kami bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya dan terus berkembang,” ucapnya sederhana.
Semua menginginkan perbaikan. Hendrik ingin SPPG-nya menjadi contoh. Chef ingin berbagi ilmu. Sekolah dan pesantren ingin anak-anak mendapat gizi terbaik. Bahkan mereka yang sempat dirugikan tetap membuka hati untuk kesempatan kedua.
Dwi Purnomo menyampaikan harapan besarnya: “Ke depan akan terbentuk wadah resmi yang dapat menaungi chef profesional yang ingin terlibat dalam program MBG, sehingga kualitas layanan dapat terus meningkat.” Ini adalah visi kelembagaan yang baik. Susanto menambahkan, “Harapan saya ke depan adalah agar semua mitra dapat menghargai kinerja para chef. Karena dapur merupakan bagian penting dalam keberhasilan program.”
Kesimpulan: Belajar, Berbenah, dan Bergerak Bersama
SPPG Pangauban 01 telah melewati masa sulit. Suspensi bukanlah akhir, melainkan awal dari kesadaran bersama bahwa infrastruktur, profesionalisme, dan keterbukaan terhadap kritik adalah kunci. Hendrik Irawan menunjukkan keteguhan untuk bertanggung jawab dan memperbaiki diri. Para Chef profesional membawa angin segar dengan semangat berbagi ilmu. Sekolah dan pesantren, meskipun sempat kecewa, tetap memberikan dukungan dan harapan.
Tidak ada yang sempurna di awal. Yang terpenting adalah kemampuan untuk belajar dari kesalahan, mendengarkan kritik, dan bergerak maju dengan kolaborasi. Program Makan Bergizi Gratis adalah amanah besar. SPPG Pangauban, dengan segala dinamikanya, kini sedang membuktikan bahwa mereka layak dipercaya kembali. Mari kita dukung setiap langkah baik, karena pada akhirnya, yang menikmati manfaatnya adalah anak-anak bangsa.
Program yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto menuju Indonesia emas” Pungkas Hendrik Irawan. (Nagon)
