
Bandung Barat, hariandialog.co.id – Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti acara pelepasan dan wisuda gabungan di Pondok Pesantren Banuraja, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat (KBB) Jawa Barat. Wisudawan dari jenjang tingkat Raudhatul Arhfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliyah (MA) di satukan dengan kenaikan kelas, Haul dan reuni Pondok Pesantren.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Banuraja sekaligus penanggung jawab kepengurusan Ponpes “KH.Achmad Badrul Munir didampingi Istri Hj.Enny Aminatuzahro dikesempatan di sela acara Wisudawan menuturkan ;
Kegiatan sakral ini menjadi momen bersejarah bagi para peserta didik yang telah menyelesaikan tahapan pendidikan masing-masing. ”Alhamdulillah kegiatan sudah sangat meriah kami ikuti dari pertama pembukaan.
Tema yang disampaikan adalah Pondok Pesantren berdiri terdepan dalam menjaga Akhlak dan Moral Bangsa demi cita-cita bangsa Indonesia yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur “negeri yang baik (makmur dan subur) dan Tuhan yang Maha Pengampun”.

Acara ini terselenggara berkat kerjasama semua Civitas Akademika guru-guru Pengajar Pesantren yayasan serta para alumni pondok pesantren yang tersebar di seluruh wilayah khususnya di Jawa Barat” Ungkap KH.Achmad Badrul Munir.
Antusias para Alumni, para peserta didik orang tua wali santri dan seluruh warga cukup besar mendukung terhadap penyelenggaraan acara wisuda dan reuni ini, serta di hadiri undangan yang lainya. mudah-mudahan kedepan akan lebih maju lagi dan hari ini tentu kita doakan mudah-mudahan anak-anak yang di wisuda bisa sukses, lancar dan mendapat ilmu yang bermanfaat dan cita-citanya bisa tercapai” Ujarnya.
Jumlah keseluruhan siswa-siswi 800, yang mondok tinggal di asrama sekitar 600 orang. Itu diluar siswa/i TK, RA dan MI. Untuk yang mondok itu hanya MTS dan MA. Yang di wisuda sekarang berjumlah 213 Siswa/siswi akhir ajaran tahun 2025-2026.

Untuk haul ini yang ke 11 dari ayahanda K.H. Ahmad Narowi ( alm ) dan Ibu Hj. Euis Siti Hindun( alm) Bin K.H Tubagus Muhammad Butolik ( Alm ),Kami turun Ketiga regnation dari keluarga besar Ponpes Banuraja.
Sekilas Pendiri Pondok Pesantren ini adalah K.H. Mahfud Azizi ( Alm) lahir pada tahun 1882 dan meninggal tahun 1990 beliau adalah ayah dari K.H. Ahmad Nahrowi Almarhum” Acara Haul Sesepuh Ponpes Banuraja ke-11 , Pemandu Do’a oleh Drs.KH. Ma’mur Sa’adic Siroj pimpinan Ponpes Al-Bidayah Cangkorah” Ujar Badrul Munir.
Saat di tanya terkait menjelang peneriman murid baru di tahun sekarang?
“Achmad Badrul Munir, berharap menjelang Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026-2027 dimasa yang cukup prihatin sekarang ini, karena memang sekolah swasta apalagi yang di bawah naungan Pondok Pesantren .kebanyakan orang menghitung sebagai sekolah kelas 2 dan tidak menjadi pilihan utama untuk masyarakat walaupun tentu masih banyak yang masih percaya terhadap Pesantren apalagi banyak issue di sosmed walaupun tidak tau kebenaranya.
Banyak pondok pesantren yang dulunya adalah sebuah padepokan kiai dan kemudian banyak pondak tahfidz yang bahkan kiainya bukan seorang hafidz, kemudian banyak yang hanya sekolah boarding scholl tiba-tiba menjadi pondok pesantren jadi ustadz yang bukan dari lulusan pesantren jadi terjadi hal yang tidak diinginkan dan imbasnya ke Pesantren dan mencoreng citra Pesantren menjadi negatif” ucapnya.

Masifnya Sekolah Negeri yang di buka Pak Dedi Mulyadi ,yang jumlahnya satu rombel itu 50 siswa/i, inilah yang merusak sistem pendidikan yang ideal, dulu kan satu rombongan belajar (Rombel) maksimal rasio siswa/i itu di 32 siswa untuk Sekolah menengah dalam satu kelas. Jika dalam satu kelas 32 siswa maka kelebihannya bisa ke sekolah swasta yang masih banyak kekurangan murid.
“Sistem pendidikan yang di bangun KDM membolehkan satu rombel itu 50 orang. Ini yang kami rasakan kehilangan kesempatan untuk menambah siswa/i termasuk tadi khusus Pesantren banyak beberapa fitnah yang sudah di goreng bahwa pesantren itu menakutkan padahal realitanya tidak seperti itu.
Dengan kasus-kasus fitnah terhadap Pesantren jelas kami sangat dirugikan karena narasinya seolah-olah Pondok Pesantren demikian yang banyak berseliweran negatif, kami tidak terima mohon untuk semua media masa ikut membantu bahwa oknum pelecehan terhadap santri/siswa-siswi itu bukan seorang kiai, melainkan oknum para pimpinan yang memproklamirkan ini menjadi pondok pesantren/kiai padahal guru padepokan. (Nagon)
