
Denpasar-hariandialog.co.id- 4 Juni 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menyebutkan, Stabilitas Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Bali hingga akhir Maret 2026 tetap terjaga solid di tengah berbagai tantangan perekonomian global maupun domestik.
Kinerja IJK ini menjadi penopang ketahanan perekonomian Provinsi Bali yang berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,58 persen yoy pada kuarter pertama tahun 2026. Capaian ini mencerminkan sinergi positif antara sektor keuangan dan aktivitas ekonomi masyarakat Provinsi Bali secara keseluruhan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Bali, Parjiman bersama Tim berkomitmen terus menjaga stabilitas IJK agar tetap resilient dan adaptif menghadapi dinamika yang ada, sehingga memberikan kontribusi optimal mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali secara berkelanjutan.
Kinerja intermediasi perbankan (Bank Umum dan BPR) di Provinsi Bali posisi Maret 2026 tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai. Penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh sebesar 6,45 persen yoy menjadi Rp120,66 triliun (Maret 2025: 6,01 persen yoy). Sementara itu, penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 8,19 persen yoy menjadi Rp146,47 triliun (Maret 2025: 6,26 persen yoy).
Kredit Investasi Tumbuh Rp. 6,08 T
Parjiman menjelaskan, Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit yoy masih didorong peningkatan kredit investasi tumbuh sebesar Rp6,08 triliun atau 16,92 persen yoy (Maret 2025: 16,24 persen yoy). Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan mendukung pembiayaan ekspansi usaha mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Provinsi Bali.Sedng kredit konsumsi tumbuh 4,28 persen yoy dan kredit modal kerja termoderasi -2,25 persen yoy.
“ Berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,25 persen kredit di Provinsi Bali disalurkan kepada UMKM tumbuh positif sebesar 4,53 persen yoy (Maret 2025: 4,94 persen yoy). Penyaluran kredit UMKM didominasi segmen usaha mikro dengan porsi sebesar 41,73 persen (tumbuh 9,75 persen yoy) dan segmen usaha kecil sebesar 37,67 persen (tumbuh 1,01 persen yoy), “ terang Parjiman..
Jika ditinjau berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi sektor Bukan Lapangan Usaha sebesar 33,33 persen (tumbuh 4,28 persen yoy) dan Sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 27,15 persen (tumbuh 1,25 persen yoy). Di sisi lain, dilihat dari pertumbuhan nominal kredit, Sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum mencatatkan penambahan nominal terbesar yaitu Rp2,07 triliun (tumbuh 15,35 persen yoy). Pertumbuhan yang signifikan tersebut mencerminkan sektor pariwisata Bali yang terus menguat dan mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan.( */NL )
