Jakarta, hariandialog.co.id.- – Salah satu prestasi yang patut
dibanggakan datang dari gadis sekaligus siswa asal Yogyakarta satu
ini. Anggraini Wulan Saputri atau lebih akrab dipanggil Wulan.
Namanya, berhasil diterima di delapan perguruan tinggi luar negeri.
Perempuan dengan sapaan Wulan ini adalah siswa dari SMA Pradita
Dirgantara Boyolali. Ia berhasil lolos di kampus:
University of British Columbia
Curtin University
University of Western Australia
Wageningen University & Research
University of Reading
University of Aberdeen
McGill University
University of Adelaide.
Ia mengaku senang sekali atas pencapaian tersebut. Ia masih
tak menyangka apalagi setelah melihat dirinya yang datang dari
keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. “Sebenarnya ini adalah
sesuatu yang tidak disangka, karena berjuang di SMA Pradita Dirgantara
tidak mudah. Dari awal kelas X sampai XII, karena di sini
persaingannya dengan teman-teman,” kata Wulan dilansir dari laman
Pradita Dirgantara, Sabtu (17/5/2025).
Sang ayah seorang lulusan SD dan bekerja sebagai tukang jasa
angkut di pinggiran jalan. Ibunya berijazah SMA.
Namun, putri dari kedua orang tua yang bekerja jadi buruh
tersebut mampu membuktikan bahwa pendidikan berkualitas dapat
dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Bagaimana bisa Wulan
berhasil diterima di banyak kampus top tersebut? Simak kisahnya!
Wulan merasa beruntung karena dapat bersekolah di SMA
Pradita Dirgantara. Menurutnya, siswa di sana rajin dan mempunyai
semangat tinggi sehingga memicu motivasinya. “Saya SMP juga dapat
bantuan. Kemudian, saya dapat kabar dari kakak kelas yang mereka bisa
sekolah di Pradita, saya cari informasi bagaimana masuk ke Pradita.
Ternyata ada beasiswa, dan itu bisa membantu orang tua saya dan untuk
itu saya merasa harus usaha lebih keras,” tuturnya.
Awalnya, Wulan menganggap kuliah ke luar negeri adalah hal
yang sulit. Namun, berkat dukungan dari sekolah dan adanya Beasiswa
Indonesia Maju (BIM) Persiapan ia semakin percaya bahwa impian
tersebut dapat tercapai.
BIM memberikan Wulan pembekalan kuliah di luar negeri
berupa pembelajaran bahasa Inggris, summer program hingga menjamin
biaya tes IELTS dan SAT. Penerima juga diberikan pembebasan biaya
daftar ke kampus tujuannya.
“Ternyata pas di sini, saya tahu banyak sekali kesempatan yang bisa
diambil ketika jeli. Dengan melihat banyak kesempatan, ada banyak cara
untuk menuju hal tersebut. Dulu kelas X, saya ada informasi soal
beasiswa indonesia maju karena sekolah memberikan informasi soal hal
tersebut, saya daftar BIM persiapan dan alhamdulillah diterima
sehingga bisa prepare dengan baik,” ujar Wulan.
Hampir semua prodi yang Wulan pilih di delapan kampus adalah
teknik pertambangan. HIngga akhirnya ia memutuskan untuk berkuliah di
University of British Columbia jurusan Mining Engineering. “Selama ini
kan banyak isu dunia pertambangan di Indonesia dikuasai luar negeri
bahkan ada ilegal, nah, padahal Indonesia kaya sekali tapi kita belum
memanfaatkan dengan maksimal. Bahkan yang memanfaatkan orang luar
negeri atau orang ada yang tidak ada izinnya. Berarti itu merugikan
negara. Akhirnya saya tertarik untuk belajar di situ dan ke depannya
mengembangkan,” katanya saat ditanya alasan memilih teknik
pertambangan.
Keberhasilan Wulan tak terlepas dari bantuan guru
pendampingnya atau PIC Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN) SMA Pradita
Dirgantara Boyolali, Isnaini Rohayati. Ia mengatakan selain Wulan, ada
54 siswa lain yang sama-sama diterima di kampus LN.
Isnaini mengatakan setiap siswa Pradita Dirgantara yang
masuk kelas khusus memiliki guru penanggung jawab. Siswa di sana akan
dibagi menjadi beberapa kelompok tergantung peminatan setelah lulus,
apakah ingin ke kampus dalam negeri, luar negeri, sekolah kedinasan,
Polri, TNI dan lainnya.
Isnaini menyebut siswa yang lolos di banyak kampus luar
negeri seperti Wulan didukung faktor keberuntungan. Tak hanya itu,
mereka juga pandai mencari kesempatan plus persiapan yang sudah
matang. “Jadi kami tidak mau anak tidak siap ketika kesempatan ada.
Kami menyiapkan anak-anak sedini mungkin. Ada pendampingan
masing-masing peminatan dan eksposur yang tinggi ke anak soal
informasi, syarat apa saja, benefit-nya apa dan sebagainya,” katanya.
Untuk mendukung mimpi siswa berkuliah di luar negeri,
Isnaini menyarankan agar guru selalu mendampingi sejak mereka masuk
SMA. Di Pradita Dirgantara, pendampingan minat sudah dimulai sejak
kelas 10, tulis dtc. (anara-01)
