Jakarta, hariandialog.co.id.- Polisi telah menangkap 15 orang dalam
kasus penculikan dan pembunuhan terhadap M Ilham Pradipta (37), Kepala
Cabang Pembantu (KCP) sebuah bank di Jakarta Pusat.
Jasad Ilham ditemukan di area persawahan di Kecamatan Serang Baru,
Kabupaten Bekasi, Kamis (21/8) pagi. Sebelum ditemukan tewas, korban
diculik di parkiran sebuah pusat perbelanjaan kawasan Ciracas, Jakarta
Timur, Rabu (20/8).
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi
mengatakan dari 15 orang itu, sembilan di antaranya ditangkap Subdit
Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, sedangkan enam lainnya dicokok
Subdit Resmob. “Kami update ada 15 orang yang diamankan,” kata Ade Ary
di Polda Metro Jaya, Selasa, 28 Agustus 2025.
Dari belasan orang itu, polisi lebih dulu menangkap empat
pelaku penculikan. Yakni AT, RS dan RAH yang ditangkap di Johar Baru,
Jakarta Pusat, serta RW yang ditangkap di bandara Nusa Tenggara Timur
(NTT).
Setelahnya, polisi berhasil meringkus empat aktor intelektual
di balik aksi penculikan dan pembunuhan tersebut. Yakni, DH, YJ dan AA
ditangkap di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 23 Agustus 2025 sekitar
pukul 20.15 WIB, serta C ditangkap di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK),
Jakarta Utara pada pukul 15.30 WIB keesokan harinya.
Sementara untuk tujuh lainnya belum diungkap oleh kepolisian.
Ade Ary menyebut penyidik masih terus melakukan pemeriksaan, termasuk
mendalami motif di balik kasus ini. “(Motif) sedang didalami,” ucap
dia.
Sosok DH diketahui adalah Dwi Hartono. Ia merupakan seorang
pengusaha bimbingan belajar (bimbel) online. Dwi pernah tinggal dan
besar di Desa Tirta Kencana Unit 6, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten
Tebo, Jambi.
Dwi disebut kerap mengundang artis ibu kota jika menggelar
acara reunian di kampungnya. Dwi yang dikenal dengan Crazy Rich Jambi
itu juga dikatakan pernah menggelar pengajian akbar.
Selain itu, Dwi juga dikenal pernah memberi bantuan ambulans
ke desa. Ia pun dikenal pengusaha sukses dan pernah turun menggunakan
helikopter ke desanya. “Dia pernah ke Rimbo Bujang ini naik
helikopter, jadi setahu orang di sini, dia sangat kaya,” kata Jay
Saragih, salah satu warga setempat.
Dugaan keterlibatan aparat TNI
Di sisi lain, pengacara tersangka penculikan Eras Musuwalo, Adrianus
Agal mengatakan aksi yang dilakukan kliennya itu atas dasar perintah
dari oknum berinisial F untuk menyerahkan korban ke daerah Jakarta
Timur.
Eras dkk kemudian diminta untuk menjemput paksa korban di
parkiran supermarket di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Setelahnya, korban
diserahkan kepada F, lalu Eras dkk pun pulang. “Setelah penjemputan
itu, penjemputan dengan cara paksa itu dilakukan, ada perintah dari
oknum yang namanya F itu untuk (korban) diserahkan di daerah Jakarta
Timur,” ujar Adrianus.
Beberapa jam kemudian, mereka dipanggil lagi untuk
mengantarkan korban pulang. Saat disuruh mengantarkan pulang, korban
ternyata sudah dalam kondisi tewas.
Dalam kasus ini, Adrianus mengatakan kliennya pun turut meminta
perlindungan hukum kepada panglima TNI dan Kapolri. “Karena ini dalam
proses penjemputan terhadap perkara ini, kami dari pihak keluarga
sudah minta perlindungan hukum ke Panglima TNI. Kami juga sudah minta
perlindungan hukum ke Kapolri karena ada dugaan oknum. Nah, oknumnya
dari mana kami cerita, tapi ini masih dugaan, kurang lebih seperti
itu,” tutur dia.
4 Orang Diduga Aktor Intelektual Pembunuhan Kacab Bank Jadi Tersangka
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen
Freddy Ardianzah mengaku belum mendapatkan informasi dari pihak Polda
Metro Jaya terkait keterlibatan prajurit dari satuan TNI dalam perkara
tersebut. “Sampai saat ini saya belum mendapat info dari Polda Metro
Jaya terkait keterlibatan prajurit dalam kasus ini,” kata Freddy saat
dikonfirmasi.
Kendati demikian, Freddy menyampaikan pihaknya terus
melakukan komunikasi dengan pihak Polda Metro Jaya terkait hal
tersebut. “Mohon waktu ya. Akan saya crosscheck dan update terkait
permasalahan ini,” pungkasnya, tulis cnni. (rojak-01)
