Jakarta, hariandialog.co.id.- “Saya bangga akan Ikadin.
Maklum orang tua saya yaitu Bapak dahulu pengurus di Ikadin Jakara
Pusat dan saya sudah ikut-ikutan diajak. Bahkan, di rumah di Jalan
Tegalan, Matraman, Jakarta Pusat, hanya ada Plang Ikadin,” kata Bontor
di awal sambutannya di Gedung Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta
Selatan, sambil memperlihatkannya melalui slied di spanduk yang
tersedia.
Memang, kata Bontor, setelah resmi terpilih sebagai
Ketua Ikadin Jakarta Selatan dirinya termenung dan meneteskan air
mata. Alasannya, kalaulah ada Ibu kandungnya yang memelihara dan
menyekolahkan hingga bisa menjadi Ketua Ikading Jakarta Selatan, tidak
bisa hadir menyaksikan karena sudah terlebih dahulu dipanggil sang
Maha Kuasa. “Coba kalaulah ada Mama tersayang saya begitu bangga
anaknya menjadi ketua Ikadin Jakarta Selatan, organisasi yang ditekuni
suaminya yaitu Bapak saya sekarang berada pada saya,” kata Bontor
sambil terisak isak mengenang sang Ibundanya.
Untuk mengenang dan menyampaikan ucapan dari lubuk
hati yang dalam Bontor O L Tobing membawakan suatu lagu batak dengan
Judul “Burju Ni Dainang i” yang artinya kebaikan sang Ibunda. Dalam
lirik lagu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lebih kurang
akan kebaikan sang Ibunda yang tidak lelang mengajari dan mendorong
serta mendoakan agar sang anak menjadi manusia yang berguna dikemudian
hari. Namun, sang anak dalam hal ini Bontor O L Tobing sudah berhasil
dui puncak Ikadin tingkat wilayah, sang Bunda tidak bisa
menikmatinya,”
Bahkan, ada satu bait yang menceritakan, janganlah
berbuat baik kepada orang tua setelah meninggal tapi semasa hidupnya
harus dihormati dan diberikan yang terbaik. “Tidak ada gunanya kita
menyediakan makanan dan fasilitas lainnya kepada orang tua khususnya
buat Ibu bila sudah tidak ada di dunia. Berikan kenikmatan dan
kembalikan kasih saya semasa hidupnya. Tidak ada artinya bila sudah
tiada atau meninggal diberikan dan disajikan yang terbaik. Sebab,
hanya susahnya ada pada Ibunda samasa hidupnya dan setelah berhasil
sang anak tidak ada guna diberikan apapun itu”.
Setelah berakhir menyajikan lagu “Burju Ni Dainang i”
para hadirin yang hadir tepuk tangan yang meriah. Bahkan, para
pengurus Ikadin Jakarta Selatan yang berdarah ‘batak” terkesimah
dengan lantungan lagu yang dibawakan oleh Bontor O L Tobing. Bahkan
ada di bagian belakang yang meneteskan air mata terikut dengan isakan
tangis kecil sang pembawa lagu. Tepuk tangan yang meriah dan
bertalu-talu dari para hadirin. (tob).
