
Medan, hariandialog co.id – Sosok aktivis kampus, mengawali Karir penuh rasa kepedulian baik masalah sosial dan penegakan hukum yang tidak pernah berhenti.
Diawali dari kepedulian itu, memulai debutnya di ranah hukum, sesuai ilmu pendidikan yang ditekuninya.
Dia adalah Paulus Peringatan Gulo, putra asal Nias yang akrab disapa Bung Paulus PG, lahir di Desa Zuzundrao pada tanggal 25 April 1995. Ia tumbuh dan besar di Desa Simaeasi, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat, dalam kehidupan yang penuh keterbatasan ekonomi namun kaya akan semangat perjuangan dan doa keluarga.
Perjalanan pendidikan Bung Paulus PG dimulai dari SD No. 0701079, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Mandrehe, dan menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan di SMKN 2 Mandrehe dengan jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Di masa sekolah, kehidupan yang dijalani tidaklah mudah. Ia harus bekerja sambil sekolah demi membantu kebutuhan hidup dan pendidikan. Dengan pakaian bekas, perlengkapan sekolah seadanya, hingga harus menahan berbagai keterbatasan, Bung Paulus tetap meyakini bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan, dengan menyandang gelar Sarjana Hukum (S-1) dan Magister Hukum (S-2), sampai saat ini didaulat sebagai Korwil Peradan Sumbagut, salah satu organisasi advokat tingkat nasional.
Berkat kerja keras, doa orang tua, dan tekad yang kuat, Bung Paulus PG akhirnya melanjutkan pendidikan Strata 1 di Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli dengan mengambil jurusan Hukum. Selama menjadi mahasiswa, ia dikenal aktif dalam berbagai organisasi internal maupun eksternal kampus. Ia dipercaya dua kali memimpin Senat Fakultas Hukum UNITA Tapanuli Utara dan jabatan terakhirnya di internal kampus adalah sebagai Presiden Mahasiswa.
Di luar kampus, Bung Paulus PG aktif sebagai kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris DPC GMNI Tapanuli Utara periode 2017–2019 dan kemudian dipercaya menjadi Ketua DPD GMNI Sumatera Utara periode 2019–2025. Dalam perjalanan organisasinya, ia banyak turun langsung melakukan advokasi di berbagai daerah, menghadapi berbagai tantangan dan risiko yang tidak sedikit. Namun dengan keyakinan dan pertolongan Tuhan, setiap proses dapat dijalani dengan baik.
Setelah menyelesaikan pendidikan Strata 1, Bung Paulus tidak langsung menikmati kehidupan yang mapan. Ia tetap menjalani berbagai pekerjaan serabutan yang halal demi bertahan hidup, mulai dari menjadi tukang masak hingga buruh di kebun orang dengan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun kondisi ekonomi yang sulit tidak pernah mematahkan semangatnya untuk terus belajar dan berkembang.
Dengan perjuangan panjang dan penuh pengorbanan, Bung Paulus PG akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan Strata 2 di Universitas Islam Sumatera Utara pada tahun 2024. Sebelumnya, pada tahun 2022, ia telah resmi menjadi seorang lawyer dan mulai mengabdikan dirinya dalam dunia hukum serta perjuangan keadilan bagi masyarakat.
Saat ini, Bung Paulus PG dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Koordinator Wilayah Sumatera Utara di Perkumpulan Advokat dan Pengacara Nusantara (PERADAN). Amanah tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah mampu membawa seseorang melewati segala keterbatasan hidup.
Keluarga menjadi kekuatan terbesar dalam perjalanan hidup Bung Paulus PG. Dukungan dan doa orang tua menjadi pondasi yang membuatnya mampu bertahan hingga saat ini. Bagi Bung Paulus, keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan kekuatan untuk bangkit lebih kuat.
“Ketika jatuh dan jatuh lagi, maka bangunlah lebih dari seratus kali. Karena perjuangan tidak akan pernah mengkhianati hasil,” menjadi prinsip hidup yang terus dipegang teguh oleh Bung Paulus PG dalam setiap langkah pengabdiannya untuk masyarakat, bangsa, dan keadilan.(Rafli)
