Jakarta, hariandialog.co.id. Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) Pahala Nainggolan mengaku kaget setengah
mati mengetahui Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2022
berada di skor 34, terburuk sepanjang reformasi. “Jadi, yang pertama
saya ditelepon kemarin kaget setengah mati saya, kok cuma 34,” ujar
Pahala di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (31/1) seperti ditulis cnni
Pahala menyatakan diperlukan terobosan untuk mendongkrak
IPK Indonesia, terlebih sejak tahun 2014 skornya tidak pernah melewati
angka 40. Terobosan dimaksud memerlukan peran sejumlah pihak seperti
pemerintah, organisasi masyarakat, bahkan partai politik.
Dia menjelaskan salah satu cara mencegah praktik korupsi
di Indonesia terkait dengan anggaran partai politik. Dia ingin
anggaran partai dari negara dinaikkan untuk mencegah mahar politik.
Meskipun begitu, ia mengaku paham cara tersebut tidak menjamin praktik
korupsi lantas langsung menghilang.”Semua orang tahu partai politik
enggak ada sumber uangnya kecuali dari bantuan pemerintah yang sangat
kecil. Setengah mati kita usulkan ayo dong parpolnya kita perkuat.
Pertanyaannya memang ada jaminannya kalau partai kuat enggak ada
korupsi? Ya enggak ada,” tutur Pahala.
“Tapi kan ada upaya logisnya kalau partai politik itu kuat
baru dikenakan sanksi, kalau dia tidak terbuka misalnya, baru kita
minta pertanggungjawaban untuk kader-kadernya yang duduk di
pemerintahan atau yang duduk di DPR,” imbuhnya.
Merujuk kajian KPK terhadap kontestasi Pilkada 2017 dan
2018 lalu, sebanyak 82,3 persen calon kepala daerah dibantu
pendanaannya dari pihak swasta.
Sebelumnya, Transparency International Indonesia (TII) mengungkapkan
IPK Indonesia tahun 2022 berada di skor 34 atau turun empat poin dari
tahun sebelumnya. Indonesia menempati peringkat 110 dari 180 negara
yang dilibatkan.
IPK Indonesia tahun 2022 dinilai mengalami penurunan
terburuk sepanjang sejarah reformasi. “CPI [Corruption Perceptions
Index] Indonesia 2022 kita berada di 34, rangking 110. Dibanding tahun
lalu, turun empat poin dan turun 14 rangkingnya,” ungkap Deputi
Sekretaris Jenderal TII Wawan Suyatmiko. (ryn/gil/redak01).
