Jakarta, hariandialog.co.id – Kabar duka itu melintas di media sosial Facebook: Jay Briones De Gala (54), pelukis yang juga aktivis itu, berpulang. Dari sahabat-sahabatnya sesama pelukis, seperti Kassah Hakim, Ireng Halimun dan Kembang Sepatu, akhirnya kabar duka itu terkonfirmasi. Jay meninggal akibat serangan jantung saat berjalan di kompleks perumahannya di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/5/2021) malam. Jenazah mualaf itu kemudian dimakamkan keesokan harinya, tak jauh dari kompleks perumahannya.
Antara percaya dan tidak percaya. Sebab, Rabu (19/5/2021) lalu, ia baru saja memberikan wawancaranya soal konflik Palestina-Israel. Sejak 2001, JBD, panggilan pelukis-aktivis kelahiran Filipina 1967, itu memang intens memberikan dukungan kepada Palestina. Ia bahkan berencana menggelar pameran dan lelang lukisan untuk membantu perjuangan rakyat Palestina. “Palestina, akulah darahmu,” katanya.
Manusia boleh berencana, Tuhanlah yang menentukan. Sebelum aksi solidaritas untuk Palestina itu terlaksana, ternyata Tuhan memanggilnya untuk selama-lamanya. Selamat jalan, Pak Jay. Nirwana menantimu.
Berikut wawancara hariandialog.co.id dengan JBD di bilangan Bintaro, Tangerang, Selatan, Rabu (19/5/2021) petang:
Sebagai pelukis sekaligus aktivis, darah Jay Briones De Gala (JBD) “mendidih” menyaksikan dari telivisi rakyat dan wilayah Palestina dibombardir tentara Israel yang mengorbankan rakyat tak bersalah.
JBD yang sejak 2001 aktif membela Palestina melalui aksi-aksi unjuk rasa dengan lukisan dan seni pertunjukan (happening art) di Jakarta sedih melihat kekerasan dan pertumpahan darah terus terjadi dan telah merenggut begitu banyak nyawa, terutama saudara-saudara kita di Palestina, termasuk perempuan dan anak anak.
JBD menilai, perang tak henti-henti karena rakyat di kedua belah pihak membiarkan minoritas kelompok ekstrem mengendalikan mayoritas yang cinta damai.
Ia yakin mayoritas rakyat Palestina dan Israel dapat hidup berdampingan dalam agama yang berbeda-beda, yakni Muslim, Kristen dan Yahudi. Hal ini juga terekam dalam lukisan JBD berjudul “United Jerusalem” (2018) di mana Masjid, Gereja dan Sinagog saling berdampingan.
“Sebaiknya bangsa Israel mengganti dan memiih pemimpin dan pemerintahan yang tahu diri. Di pihak lain, Hamas di Palestina sebaiknya melunak, dan bersama Israel melaksanakan perjanjian damai yang sudah diteken kedua belah pihak. Mundur selangkah untuk maju dua langkah. Mengalah untuk menang,” ujar JBD.
JBD mengaku siap menggalang dana melalui pameran atau lelang lukisan-lukisannya sebagai bentuk solidaritas bagi rakyat Palestina. “Palestina, akulah darahmu,” tagas JBD yang mengaku sedang menggalang dukungan dari para “stakeholders” seperti Kementerian Luar Negeri RI dan Kedutaan Besar Palestina di Jakarta.
JBD menyambut baik gencatan senjata Israel-Palestina setelah 11 hari bertikai. Sayangnya, gencatan senjata itu ternoda oleh serangan sporadis pihak Israel yang tentu saja dibalas Palestina sebagai bentuk pertahanan diri.
Sebab itu, katanya, tak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam rangka mempertahankan diri dan meraih kemerdekaannya. “Jangan pula berdalih itu masalah internal Palestina, Indonesia tak perlu mendukung, karena masalah dalam negeri Indonesia juga banyak. Itu bukan alasan yang bijak,” tegas JBD.
Menurut JBD, ada dua alasan mengapa Indonesia, termasuk dirinya yang sudah menjadi WNI sejak 2018, harus mendukung perdamaian Palestina-Israel. Pertama, amanat konstitusi, yakni Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menyatakan, “Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”, serta “Ikut memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.
“Kedua, meski bukan negara Islam, mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Jadi, wajib hukumnya membela Palestina yang memang sesama Muslim,” jelas pelukis aktivis kelahiran Filipina, 1967 ini.
Hanya saja, JBD mengingatkan konflik Palestina-Israel bukan perang agama, karena di Palestina ada non-muslim dan di Israel pun ada non-Yahudi. “Pemerintahan Israel saja yang dikuasai zionis yang tak tahu diri. Israel bangsa yang tak punya wilayah. Sejak dulu kala mereka nomaden. Sebagai bangsa pendatang di Palestina, mestinya Israel tahu diri, bahkan menghormati tuan rumah dan mau hidup berdampingan dengan Palestina, bukannya justru menjajah,” terangnya.
Di pihak lain, JBD minta Hamas menahan diri dan taat pada perjanjian yang ada. Ia yakin, kalau Palestina kembali ke perjanjian damai, semua Muslim dunia akan bersatu membelanya. “Hamas harus pakai otak juga, bukan otot saja. Diplomasi adalah jalan paling moderat. Perang adalah upaya terakhir,” paparnya.
JBD menegaskan dalam waktu dekat akan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk menggelar pameran atau lelang lukisan guna menyumbang rakyat Palestina. Apalagi setelah ia mendengar dari Dubes Israel di Jakarta bahwa sumbangan yang digalang komunitas-komunitas di Indonesia tak pernah sampai ke pemerintah dan rakyat Palestina.
Ada banyak lukisan bertema Palestina yang sudah disiapkan JBD sejak 2001 hingga kini. Semua “oil on canvas” dengan ukuran bervariasi.
Di antaranya “United David II” (2020), “God is the Greatest” (2001), “The Fight” (2001), “Attack in Palestine” (2002), “Fire on Betlehem” (2002), “Anti-Imperalism” (2002), “Friendship” (2002), “Yasser Arafat” (2002), “United Jews” (2018), “United Davids” (2019), dan “United Davids II” (2020). (yud)
