Medan, hariandialog.co.id.- – Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengembang
Perumahan dan Permukiman (Rakernas Apersi) tahun 2022 menyoroti soal
rumah subsidi dan rencana pemerintah soal penggabungan atau merger BTN
Syariah.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) LaNyalla Mahmud Mattalitti, dalam
sambutan secara virtual menegaskan, sektor properti dan perbankan
merupakan dua sektor yang tak terpisahkan. Kedua industri ini menjadi
andalan dalam pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. “Sektor
perbankan, khususnya bank fokus perumahan seperti BTN menjadi harapan
untuk memacu pemulihan ekonomi nasional dari sektor properti khususnya
perumahan,” kata LaNyalla, di acara Rakernas Apersi, Rabu (26/7/2022)
berita1.
LaNyalla menjelasan, pengalaman BTN yang membidani kelahiran
kelahiran pola pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) menandakan
kapasitas dan track record yang sangat panjang dalam menangani sektor
perumahan. “Hingga kini dibuktikan, BTN selalu menjadi yang terdepan
dalam penyaluran kredit rumah subsidi untuk MBR, begitu juga dengan
BTN Syariah,” jelasnya.
La Nyalla menambahkan, isu yang berkembang belakangan ini
membuat industri properti sedikit banyak terganggu. Menurutnya, tidak
ada alasan yang membuat BTN Syariah secara ekonomi, pengalaman dan
yuridis konstitusional harus digabung ke BSI.
Seharusnya, tambah dia, BTN Syariah diperkuat sebagai penyalur KPR
FLPP bersubsidi berbasis syariah, sehingga bisa memperluas kinerjanya.
“Dengan istilah disatukan atau merger akan melemahkanpositioning BTN
Syariah sebagai bank yang fokus dalam penyaluran pembiayaan perumahan
berbasis syariah, mengingat BSI tidak memiliki fokus dan pengalaman di
bidang pembiayaan perumahan,” tegasnya.
Ketua Umum Apersi Junaidi Abdillah dalam sambutannya
menegaskan, Apersi sepakat dengan cita-cita program sejuta rumah dan
pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19 yang dilakukan
pemerintah. Semangat Presiden Jokowi tersebut harus didukung penuh
oleh semua pihak, jangan ada kegaduhan yang menghambat proses
pemulihan ekonomi. “Apersi menilai, jangan mencaplok bank yang sudah
berjalan dengan baik. Selain itu, perlu diingat bahwa pembangunan
perumahan adalah satu penggerak ekonomi adalah pengembang karena
sektor properti melibatkan tenaga padat karya,” kata Junaidi. (diah).
