Majalengka.hariqn dialog. Usianya mungkin tak lagi muda, tetapi semangatnya tetap menyala. Dr. H. Sutrisno, mantan Bupati Majalengka dua periode sekaligus anggota DPR RI satu periode, memilih jalan yang berbeda setelah tak lagi duduk di kursi kekuasaan. Bagi Sutrisno, berhenti menjabat bukan berarti berhenti mengabdi.
Di tengah hiruk pikuk politik daerah yang sering disesaki perebutan kekuasaan, Sutrisno justru menepi. Ia kini sibuk merintis Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak sekolah, mulai dari TK/PAUD hingga SMA/SMK. Tidak tanggung-tanggung, program ini direncanakan menjangkau empat kecamatan sekaligus: Jatiwangi, Majalengka, Panyingkiran, dan Ligung.
“Sejak dulu saya percaya, masa depan Majalengka ada di pundak generasi mudanya. Maka kalau kita ingin Majalengka lebih maju, kita harus pastikan anak-anak kita sehat, kuat, dan cerdas. Salah satunya lewat makanan bergizi,” ujar Sutrisno dengan mata berbinar, Jumat (29/8) di Jatiwangi.
Bangun Gedung, Bangun Harapan
Saat ini, pembangunan gedung pusat kegiatan MBG di wilayah Jatiwangi sedang berlangsung. Gedung ini nantinya akan menjadi dapur utama sekaligus pusat distribusi makanan bergizi gratis ke berbagai sekolah.
Bagi Sutrisno, membangun gedung ini bukan hanya sekadar mendirikan bangunan fisik. Lebih dari itu, ia sedang menanam harapan agar anak-anak Majalengka tumbuh tanpa kekurangan gizi, agar mereka bisa belajar dengan semangat dan menggapai masa depan.
“Kalau anak-anak sehat dan pintar, insya Allah Majalengka juga akan lebih maju. Saya ingin meninggalkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat, bukan hanya jejak jabatan,” tuturnya.
Menolak “Comeback Politik”
Di tengah spekulasi bahwa dirinya akan kembali maju di Pilkada mendatang, Sutrisno menegaskan tidak akan mencalonkan diri lagi sebagai bupati.
“Saya sudah dua periode jadi bupati, aturan pun tidak memperbolehkan lagi. Jadi tidak ada niat untuk maju kembali. Sekarang fokus saya adalah bagaimana bisa terus berbuat untuk rakyat lewat jalur lain,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menutup rumor politik yang belakangan berkembang. Sutrisno lebih memilih jalur sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat ketimbang kembali ke arena politik praktis.
Merintis Pariwisata untuk Rakyat
Tak hanya di bidang pangan, Sutrisno juga tengah merintis usaha pariwisata. Menurutnya, potensi wisata Majalengka sangat besar, mulai dari keindahan alam hingga budaya lokal yang khas. Jika dikelola dengan baik, sektor pariwisata bisa menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
“Wisata itu tidak hanya soal hiburan. Ia bisa membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan mengangkat nama daerah. Saya ingin ikut berperan membangun itu,” katanya.
Pengabdian yang Tak Pernah Pensiun
Meski sudah tidak lagi menjabat, semangat Sutrisno seolah tidak pernah padam. Sosoknya yang sederhana, dekat dengan masyarakat, dan selalu bicara dengan bahasa yang mudah dipahami, membuatnya tetap dirindukan banyak orang.
Bagi Sutrisno, pengabdian adalah jalan panjang tanpa garis akhir. Jabatan bisa berganti, kursi kekuasaan bisa berpindah tangan, tetapi niat untuk membaktikan diri pada masyarakat harus terus hidup.
“Kalau kita tulus, mengabdi itu tidak harus lewat jabatan. Saya ingin sisa usia saya dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat. Itulah kebahagiaan saya,” ucapnya menutup perbincangan.
Dengan langkah-langkah sederhana namun nyata, Sutrisno menunjukkan bahwa purna jabatan bukan berarti purna pengabdian. Justru dari luar lingkaran politik, ia menemukan jalan baru untuk tetap memberi arti bagi Majalengka.(Ayub)
