Jakarta, hariandialog.co.id.- Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas mengatakan tengah
mencari solusi terkait penyelesaian guru honorer atau non-Aparatur
Sipil Negara (Non-ASN).
SebeluAdapun solusi tersebut tengah digodok secara bersama dengan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian
Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri. “Kita sedang mencari solusi
alternatif yang terbaik bagi non-ASN, kemudian termasuk masalah
guru-guru di berbagai daerah di seluruh Indonesia,” ujar Menpan RB
Abdullah Azwar Anas dalam keterangan resmi, ditulis Minggu (7/5/2023).
Per 1 Mei 2023, usulan formasi guru Pegawai Pemerintah
dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang diterima sebanyak 266.560 formasi.
Perihal kebutuhan guru ini, Menteri Anas berharap harus segera
diselesaikan secara kolaboratif antara pemerintah pusat bersama
pemerintah daerah.
Dalam kesempatan itu, Mendikbudristek Nadiem Makarim
mengatakan jajarannya mencari cara untuk mempercepat penyelesaian
tenaga guru non-ASN ini. Salah satu langkah yang ditempuh
Mendikbudristek adalah mendorong pemerintah daerah untuk mengusulkan
formasi guru sesuai dengan kebutuhan. “Itu yang kita ingin lebih
banyak lagi guru non-ASN yang layak menjadi PPPK. Dan juga kami
memikirkan bagaimana kedepannya kita menyelesaikan masalah kebutuhan
guru ini secara lebih efisien,” ungkap Nadiem.
SebeluSementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan
pembahasan bersama tiga kementerian ini dilaksanakan untuk mengetahui
bagaimana kebutuhan untuk pendanaan pendidikan bisa disediakan,
khususnya guru. “Kita sudah memiliki BOS, kita juga memiliki alokasi
guru ASN yang ada di pemerintah daerah. Ini kita cari lagi bagaimana
caranya bisa lebih kena dengan kebutuhan sekolah dan bisa lebih cepat
diadakan oleh sekolah, artinya betul-betul sesuai dengan kebutuhan
sekolah yang bersangkutan,” kata Suahasil.
Terakhir, Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Agus Fatoni
menyampaikan aspirasi dari bawah menjadi atensi pemerintah untuk
didiskusikan bersama penyelesaiannya. “Kemudian dicari formulasi dan
solusi terbaik hingga semuanya bisa berjalan,” pungkas Fatoni.
(pitta).
