Jakarta, hariandialog.co.id.- Baru beberapa hari setelah Dewan
Pers priode 2025 – 2028, sah karena sudah dilantik langsung ambil
Langkah baik mempersatukan Pengurus PWI Pusat versi hasil Kongres
Bandung dan hasil Kongres Luar Biasa.
Pertemuan yang dipimpin langsung anggota Dewan Pers Dahlan
Dahi antara Henri CH Bangung dan Zulmasyah Sakedang walau sempat
keras dengan prinsip masing masing akhirnya melemah dan demi persatuan
dan kesatuan PWI.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu diakhir pertemuan
memutuskan untuk mengakhiri konflik internal terkait kepemimpinan pada
organisasi tersebut. PWI akan menggelar kongres persatuan pada Agustus
2025 mendatang.
Kesepakatan itu dicapai melalui negosiasi maraton di Jakarta, Jumat
(16/5) kemarin malam, antara Ketua Umum PWI hasil Kongres Bandung,
Hendry Ch Bangun, dan Ketua Umum PWI hasil Kongres Luar Biasa,
Zulmansyah Sekedang.
Sebagai informais, Hendry terpilih sebagai Ketua Umum PWI
melalui Kongres Bandung, 27 September 2023 lalu. Kurang dari setahun
atau pada awal 2024, PWI dilanda konflik internal, yang berbuntut
Kongres Luar Biasa (KLB) di Jakarta, 18 Agustus 2024. KLB PWI memilih
Zulmansyah secara aklamasi sebagai Ketua Umum.
Berbagai usaha mediasi dilakukan untuk mendamaikan kedua
pihak. Hingga akhirnya kesepakatan tercapai pada Jumat malam kemarin
untuk menggelar kongres persatuan demi menyelesaikan konflik.
Anggota Dewan Pers Dahlan Dahi memediasi kesepakatan itu.
Hendry dan Zulmansyah menuangkan poin-poin kesepakatan dalam dokumen
bermaterai yang diberi nama ‘Kesepakatan Jakarta’.
Negosiasi berlangsung selama sekitar empat jam antara Hendry
dan Zulmansyah. Dahlan, yang duduk di tengah-tengah kedua tokoh pers
itu, menjadi mediator.
Negosiasi berlangsung sangat alot di beberapa poin, disertai
debat panas. Namun, beberapa kali terdengar suara tawa yang keras.
“Bang Hendry dan Bang Zul tegas dan konsisten dengan prinsip
masing-masing. Tapi kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab yang tinggi
untuk pers Indonesia, untuk PWI, menjadi titik temu. Keduanya juga
bersahabat. Negosiasi dimulai dari sana,” ujar Dahlan.
Hendry pun berpandangan sudah saatnya PWI melihat ke depan.
Menurutnya, sudah cukup PWI tertahan karaena konflik internal. “Semua
harus melihat ke depan dengan semangat persatuan,” kata Hendry.
“Ini semua untuk mengembalikan PWI yang sempat tertahan program
kerjanya akibat perpecahan selama setahun. PWI dengan anggota 30.000,
tersebar di 39 provinsi, dan memiliki anggota bersertifikat sekitar
20.000 ingin terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Dan program
peningkatan kompetensi dan kapasitas anggota dapat kembali berjalan
baik,” lanjut dia.
Zulmansyah juga berpandangan yang sama. Menurutnya, penting
untuk PWI bersatu kembali. “Ini hasil yang luar biasa. Sejarah untuk
PWI. Semoga PWI kembali guyub dan bersatu sesuai namanya Persatuan
Wartawan Indonesia, baik di PWI pusat maupun di daerah,” ucap
Zulmansyah.
Sebelum Hendry dan Zulmansyah bertemu langsung, diskusi
mengenai poin-poin krusial sudah dilakukan melalui telepon. Dahlan
juga meminta masukan dari tokoh-tokoh senior PWI.
Naskah satu halaman berisi Kesepakatan Jakarta akhirnya
ditandatangani jelang tengah malam, diwarnai jabatan tangan dan tawa
lepas. Dokumen dikopi tiga rangkap, di atas kertas materai, diteken
oleh Hendry dan Zulmansyah serta Dahlan.
Dokumen Kesepakatan Jakarta menyebutkan, kesepakatan
dilandasi semangat ketulusan, keikhlasan, dan tanggung jawab sebagai
anggota PWI, masyarakat, bangsa, dan negara, tulis dtc (bing)
