
BATU BARA, hariandialog.co.id — Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara melaksanakan audiensi ke Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Selasa (12/05).
Rombongan dipimpin Ketua Majelis Datuk Setiawangsa II, didampingi Sekjen Muhammad Rozali, Wakil Sekretaris Raisha Ramadhan, dan Ketua Bidang Hukum Viktor Oktavianus. Kedatangan mereka disambut langsung Kalapas Labuhan Ruku Dr. Hamdi Hasibuan, S.T., S.H., M.H. bersama Ka. KPLP Franki Hamonangan Turnip, Kasi Binadik Marlon Brando, dan Kaur Kepegawaian Denny Febriyanto.
Kalapas Dr. Hamdi Hasibuan menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. “Dalam catatan kami, baru kali ini kedatangan organisasi adat, khususnya adat Melayu. Apalagi ini para zuriat Kedatukan Batu Bara. Saya merasa terhormat menyambut ini dan semoga hubungan baik ini tidak putus sampai di sini,” ujarnya. Ia juga menyebut budaya Melayu bukan hal baru baginya karena istrinya aktif dalam kegiatan Melayu Deli.

Dalam audiensi, Kalapas memaparkan program pembinaan kemandirian warga binaan. Lapas Labuhan Ruku baru menerima bantuan alat tenun dari Pemkab Batu Bara untuk warga binaan wanita. Tujuannya agar setelah bebas mereka memiliki keterampilan dan penghasilan, sehingga tidak kembali melakukan pelanggaran hukum. Namun, pihaknya terkendala ketiadaan instruktur atau tenaga ahli tenun untuk menjalankan program tersebut.
Selain tenun, Kalapas berharap warga binaan wanita juga dibekali keahlian tari Melayu. Sebab, sekitar 70 persen warga binaan wanita di Lapas Labuhan Ruku merupakan suku Melayu. Keterampilan itu diharapkan dapat dimanfaatkan saat kegiatan Pemkab Batu Bara maupun acara internal lapas. Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara memaparkan sejarah 9 Kedatukan di Batu Bara dan berkomitmen membantu mencarikan instruktur tenun serta tari Melayu.
Audiensi ditutup dengan penyematan pin kehormatan dari Majelis Kedatukan Melayu Batu Bara kepada Kalapas Dr. Hamdi Hasibuan, S.T., S.H., M.H. sebagai simbol terjalinnya hubungan kerabat. Kedua belah pihak berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal pembinaan warga binaan berbasis kearifan lokal dan budaya Melayu di Kabupaten Batu Bara.
(Khairul Amri)
