Yogyakarta, hariandialog.co.id- Lonjakan peminat dialami Program Studi Ekonomi Pertanian dan
Agribisnis (EPA) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dari 27 kursi yang tersedia, program studi itu menerima 271 pendaftar
pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Ketua Program Studi EPA UGM, Hani Perwitasari, menyambut
minat yang dinilai cukup besar tersebut. Menurutnya, sektor pertanian
tak lagi bisa dipahami semata sebagai aktivitas budidaya di lahan.
Pertanian modern mencakup keseluruhan rantai nilai—dari produksi di
tingkat petani hingga distribusi, pasar, dan kebijakan
publik.“Mahasiswa tidak hanya belajar menanam, tapi juga membaca
pasar, mengelola bisnis, hingga merumuskan kebijakan,” ujarnya pada
Jumat, 17 April 2026.
Di sinilah, kata Hani, letak pembeda EPA. Program ini
disebutnya memadukan dua pendekatan sekaligus, yaitu ekonomi pertanian
dan manajemen agribisnis. Mahasiswa dapat memilih fokus pada analisis
ekonomi sektor pertanian. Misalnya terkait harga, perdagangan, dan
ketahanan pangan atau mendalami sisi bisnis seperti pemasaran,
keuangan, dan manajemen usaha tani.
Struktur kurikulumnya dalam Program Studi EPA, dia
menjelaskan, juga dirancang lentur. Pada tahap awal, mahasiswa
dibekali dasar-dasar ilmu pertanian seperti mikrobiologi, ilmu tanah,
dan budidaya. Tapi, seiring waktu, pembelajaran bergeser ke analisis
ekonomi dan pengelolaan bisnis. “Mata kuliah seperti pembangunan
pertanian, ekonomi internasional, hingga manajemen agribisnis menjadi
bagian dari spektrum studi.”
Menurut Hani, model ini membuat Program Studi EPA terbuka
bagi lulusan IPA maupun IPS. Latar belakang sains membantu memahami
aspek produksi, sementara basis ekonomi memperkuat analisis bisnis.
“Keduanya saling melengkapi,” kata Hani.
Prospek lulusannya pun diyakini meluas. Alumni Program Studi
EPA bekerja di kementerian, perbankan, perusahaan pangan, hingga
lembaga internasional. Sebagian memilih jalur wirausaha agribisnis,
memanfaatkan peluang di sektor yang terus tumbuh, tulis tempo.
(abira-01)
