
Jakarta, hariandialog.co.id.- “Bangunan itu sudah hampir 7 tahun berdiri. Tidak tahu akan digunakan dan dimana salahnya makannya tidak dipergunakan. Kalau malam ada mahluk yang lihat-lihat para pedagang melalui jendela,” kata salah seorang kuli panggul di Pasar Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Bahkan, pria yang mengaku bernama sahrun itu, bangunan tersebut dijuluki sudah menjadi sarang “gondoruwo” dan ada juga yang menyebutnya sarang “kuntilanak”. “Untung saja pasar yang tidak sepi dari orang. Kalau bukan pasar yang selama 24 jam ada manusia hingga tidak turun itu kuntilanak maupun gondoruwo. Pokoknya seram, tidak ada yang berani naik ke atas walau ada tangga,” lanjutnya.
Sementara itu, warga yang berada di sekitar pasar Pasar Minggu, terheran-heran kenapa gedung besar bertingkat 3 cukup megah tidak ditempati. “Mungkin ada masalahnya hingga tidak ditempati.
Padahal, dulu kalau tidak salah bangunan mewah itu ada papan proyek dikerjakan perusahaan BUMN dengan biaya hampir Rp.10 miliar lebih. Yah, negara banyak uang jadi dihambur-hamburkan buat pembangunan tapi tidak dimanfaatkan,” jelas pria One, yang mengaku berdomisili di belakang Pasar.
Memang, lanjut pria yang bekerja di perusahaan swasta berlatar belakang pendidikan hukum itu, terheran tidak ada turun aparat penegak hukum (APH) untuk menyidik apakah ada kesalahan atau dugaan tindak pidana korupsinya hingga tidak ada serah terima kepada Pemda DKI Jakarta dalam hal ini Perusahaan Daerah Pasar. “Kan mubazir uang rakyat untuk membangunnya dibuang begitu saja. Yah dibuanglah karena tidak dipergunakan atau tidak dimanfaatkan,” terangnya.
Keluhan warga tidak ditempatinya atau dipergunakan bangunan pasar Pasar Minggu yang berada di belakang terminal Pasar Minggu itu, ketika dipertanyakan kepada seorang jaksa di bagian Intel Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, menyebutkan bahwa proyek tersebut milik Pemda DKI Jakarta atau PD Pasar Pusat. “Jadi kalau proyek Pemda atau PD Pasar Pusat, itu arena kerja Kejaksaan Tinggi Jakarta. Jadi kami tidak berani memasuki area Kejati,” ungkap pria yang tidak mau disebut namanya di koran. (tob)
