Jakarta, hariandialog.co.id.- — Sudrajat tak pernah membayangkan
pekerjaan yang dirinya jalani puluhan tahun akan berubah menjadi
tuduhan yang menyakitkan.
Penjual es keliling yang saban hari menyusuri jalanan Jakarta
itu dituding menjual es gabus berbahan spons kepada anak-anak. Tuduhan
ini menyisakan ketakutan bukan hanya bagi Sudrajat, tetapi juga
anak-anaknya.
Anggota TNI dan Polri yang memfitnah Sudrajat sudah
melayangkan permintaan maaf. Namun, pihak keluarga menyesalkan
kejadian yang menimpa Sudrajat.
Andi (19), anak kedua Sudrajat mengaku masih kesal dengan
perlakuan aparat kepada ayahnya. “Enggak usah dikata lagi, rasa takut
mah masih ada aja. Apalagi kami orang kecil,” kata Andi, dikutip dari
detikcom.
Andi adalah satu dari lima bersaudara anak Sudrajat. Saban
hari ia bekerja di Pasar Citayam untuk membantu ekonomi keluarga
sebagai kuli angkut. Pendidikan yang sempat ia jalani harus terhenti
karena biaya. “Mentok biaya. Terakhir yang sekolah (anak) yang kelima
aja, sekarang kelas dua,” katanya.
Ayahnya, Sudrajat, telah lama berjualan es. Bahkan sejak
sebelum Andi lahir. Dari kotak es itulah dapur keluarga mereka
mengepul selama hampir tiga dekade.
Tuduhan es gabus berbahan spons itu sempat membuat Sudrajat
takut melangkah keluar rumah. Bukan karena merasa bersalah, tetapi
karena khawatir disalahpahami orang di jalan.
Kini, rasa cemas itu perlahan pudar. Dukungan dari banyak
pihak membuat Sudrajat dan keluarga harus terus yakin untuk menyambung
hidup dari es gabus. “Seneng banget, tidak ada takut lagi dan bapak
rencananya tetap jualan es,” kata Andi yang saat ini berada di Bandung
untuk bertemu Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.
Kejadian bermula ketika Aparat TNI dan Polri mendatangi
Sudrajat, seorang pedagang es kue jadul di Kelurahan Utan Panjang,
Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu, 24-01-2026.
Aparat polisi dan tentara tersebut mengaku bertindak setelah
adanya laporan masyarakat yang mencurigai es yang dijual mengandung
spons atau bahan berbahaya.
Tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah, aparat yang
menjalankan respons awal terhadap laporan itu kemudian memeriksa
dagangan Sudrajat dan merekam video yang memperlihatkan mereka
memegang serta mencurigai es tersebut berbahan spons.
Dalam keterangannya kepada wartawan, aparat kemudian mengaku
menyimpulkan terlalu cepat tanpa menunggu hasil pemeriksaan dari
Laboratorium Forensik (Labfor).
Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya kemudian
memeriksa sampel es di laboratorium. Hasilnya, es tersebut aman dan
layak dikonsumsi, tanpa temuan bahan berbahaya atau spons seperti yang
dituduhkan awalnya.
Setelah hasil uji lab ini keluar, aparat yang terlibat, yakni
Babinsa Kelurahan Utan Panjang dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung
Rawa, secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada Sudrajat dan
masyarakat atas kegaduhan yang disebabkan video viral tersebut.
Aparat TNI dan Polri yang mengamankan Sudrajat meminta maaf.
Permintaan maaf itu disampaikan Babinsa Kelurahan Utan Panjang Serda
Hari Purnomo dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa Aiptu Ikhwan
Mulyadi di Aula Mako Polsek Kemayoran pada Senin, 26-01-2026 malam.
“Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video
tentang penjual es hunkue yang diduga berbahan spons di wilayah
Kemayoran, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada
seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat
beredar luas di media sosial,” ujar Aiptu Ikhwan dalam keterangannya
yang diterima wartawan.
Ikhwan menyampaikan tindakan keduanya itu sebagai respons
cepat terhadap laporan masyarakat yang khawatir adanya dugaan makanan
berbahaya di lingkungan mereka, dalam hak ini pihak RW 05 Kelurahan
Rawa Panjang. Hal itu juga untuk memastikan agar masyarakat terhindar
dari hal-hal yang tidak diinginkan. “Kedua, niat kami semata-mata
untuk mengedukasi, agar tidak ada konsumen yang dirugikan dan
memastikan masyarakat merasa aman dalam membeli makanan di
lingkungannya. Dalam situasi tersebut, kami hanya berusaha menjalankan
tugas dengan cepat untuk mencegah potensi bahaya,” jelasnya, tulis
cnni. (rojak-01)
