
Denpasar – hariandialog.co.id – Di tengah tantangan ekonomi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, Pemerintah Provinsi Bali bersama Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dan pemangku kepentingan menyusun langkah dan strategi kebijakan menghadapi implikasi dinamika geopolitik tersebut terhadap perekonomian Bali.
Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, mengatakan hal itu dalam Forum Balinomics yang diadakan Selasa ( 214) di Sanur,
“Forum Balinomics ini merupakan forum diskusi antara pemerintah daerah dan pakar ekonomi,serta praktisi terkait perekonomian Bali. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang tidak menentu menimbulkan dampak ekonomi sangat besar bagi dunia, termasuk Bali,” jelasnya.
Ia menyampaikan,konflik terjadi di Timur Tengah tidak hanya berdampak secara global, tetapi juga berimplikasi terhadap perekonomian nasional serta Bali, akhirnya turut memengaruhi sektor pariwisata sebagai motor penggerak utama ekonomi daerah.
“Nilai tukar rupiah mengalami guncangan, harga-harga komoditas meningkat, betdampak merambat ke sektor ekonomi lainnya, termasuk pariwisata,” imbuhnya.
” Sangat penting bagi pemerintah daerah, para pemangku kepentingan, dan pelaku ekonomi mendiskusikan arah kebijakan perekonomian Bali, baik saat ini maupun ke depan,” ungkap Dewa Indra
“Kami berharap Forum Balinomics ini memberikan manfaat bagi kita semua, menghasilkan rumusan peluang ekonomi dapat diraih, rekomendasi kebijakan, serta solusi memastikan perekonomian Bali tumbuh optimal,” jelas Dewa Made Indra.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengungkapkan Balinomics 2026 mengangkat tema pembaruan kebijakan ekonomi Bali dan dinamika ekonomi di tengah gejolak geopolitik. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah diseminasi rutin mengenai kondisi perekonomian global, nasional, dan Bali terkini.
Erwin menjelaskan,ada beberapa strategi ekonomidapat dilakukan memastikan perekonomian Bali tetap berjalan dengan baik, antara lain menjaga kinerja sektor utama (backbone) ekonomi Bali, yaitu pariwisata; mendorong pengembangan sektor unggulan baru (new economic heroes) menciptakan efek pengganda; memperkuat sektor pertanian sebagai upaya diversifikasi sumber pertumbuhan; serta memperkuat UMKM dan digitalisasi sebagai penyangga dan katalisator ekonomi. ( */NL )
