
Jakarta, hariandialog.co.id – “Terus terang kami ini korbannya pemerintah RI. Dan pemerintahlah yang menjadikan kami pengangguran. Sedih dan tidak bisa berkata-kata. Tidak tau harus mengadu kepada siapa,” ujar Rani nama samaran.
Menurut Rani yang bersuara atas nama rekan-rekan dan pasti sependapat akan jeritan serta penyesalan terhadap pemerintah yang tidak adil dalam pembagian kuota bahan bakar minyak, (BBM). “ Coba swasta lain yang sama sama berusaha dagang BBM melalui SPBU diberikan kuota. Kita dalam hal ini Shell tidak diberikan. Tidak jelas apa dosa dan kesalahan pimpinan di Shell sehingga tidak diberikan,” terangnya.
Kalau dihitung, kami yang selama ini menggantungkan hidup dari jualan BBM di Shell diperkirakan 1.000 orang lebih pekerja mulai dari pelayan pengisian, manager, keamanan sampai office boy. Semuanya jadi berantakan, tidak jelas dimana dan kemana para teman teman yang semula bersama alias bareng. “Yang jelas berantakan dan ini terkait perut dan pendidikan masa depan anak,” terangnya
Pemerintah tidak memikirkan apalagi membayangkan derita para pekerja di bawah bendera Shell. Bagaimana makan, bagaimana bayar kontrakan, bagaimana bayar uang sekolah dan lain-lain kebutuhan hidup berumah tangga. “Ada rekan di bulan kedua tidak ada BBM atau operasional Shell, langsung mengungsikan keluarga ke kampung. Habis bayar uang kontrakan bagaimana, “ jelasnya yang jika seorang diri bisa tidur di mushollah.
Kami, kata salah seorang pekerja di SPBU di jalan Pasteur, Bandung, sudah habis akal. “Kami tidak berani menuntut apa apa kepada pimpinan atau bos perusahaan. Melihat tangki SPBU kosong tidak pernah ada isi untuk diisi BBM oleh pemerintah melalui Pertamina. Kami sangat kasihan sama Bos, tapi kamipun butuh rupiah. Tapi lihat kenyataan, tidak berani menuntut lebih. Bos ngak gila saja sudah syukur karena keadaan sekarang tidak ada yang mau dijual di SPBU,” tutur pria mengaku Maman.
Semua teman teman di SPBU Shell di seputaran Bandung Raya, sempat dagang minuman ringan. Tapi lama kelamaan tidak enak menggunakan lahan SPBU hanya untuk mencari sedikit rezeki buat makan. “Yang tidak tahan langsung lamar menjadi pengemudi ojek motor online demi hidup di kota dan buat keluarga di kampung,” terangnya.
Memang, kata Maman, pengusaha SPBU Shell benar-benar menderita ditekan keadaan. “Saya dengar ada bos yang baru mendapat kucuran kredit dari Bank untuk ekspansi pembelian lahan, pengurusan izin dan Pembangunan SPBU, eh tiba-tiba tidak ada stock BBM yang mau dijual. Coba berapa miliar rupiah yang diinvestasikan pengusaha untuk bisa mendirikan SPBU. Setelah berdiri pengiriman BBM ke SPBU dihentikan pemerintah melalui PT Pertamina selaku pemasok Tunggal import BBM ke Indonesia,” ya itulah monopoli tapi menyusahkan pengusaha dan mungkin hanya Shell.
Melihat dari dekat setelah BBM tidak dikirim ke SPBU Shell berbagai kegiatan dilakukan keamanan seperti menjaga dan menarik uang recehan dari para pengendara yang buang air di toilet. “Kami tidak minta tapi ada kotak kardus untuk tempat uang kebersihan. Jadi kalau ada uang yang beli pewangi dan sabun untuk membersihkan toilet. Ada juga yang jadi montir bila ada yang mau ganti oli dan tambal ban. Kami lakukan apa saja sambil menunggu mujizat ada kiriman BBM walau sangat tipis harapan. Apalagi saat sekarang sedang berkecamuk perang di Timur Tengah,” ungkapnya yang pesimis SPBU Shell akan dapat pasokan BBM. (tim)
