Jakarta, hariandialog.co.id. Setelah dua dekade bergulat dengan
isu-isu hak asasi manusia (HAM), khususnya hak perempuan, Andy
Yentriyani akhirnya terpilih menjadi Ketua Komisi Nasional
Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Sebuah
perjuangan panjang yang terus dilakukannya sejak masih di bangku
sekolah hingga kini.
Lahir pada 24 Januari 1977, Andy Yentriyani tumbuh dan besar di Kota
Pontianak, Kalimantan Barat. Menamatkan pendidikan dasar di SDN 1
Pontianak, Andy mulai tertarik dengan isu perempuan sejak duduk di
bangku SMPN 1 Pontianak karena fenomena yang hidup di lingkungan
sekitar.
Andy menyaksikan langsung, tak sedikit dari teman-teman sekolahnya
yang perempuan dan beretnis Tionghoa harus pasrah dinikahi warga
Taiwan. Mereka pun kehilangan masa remaja karena dinikahkan orangtua
di usia yang masih sangat belia antara 13-14 tahun. Melalui pernikahan
transnasional tersebut, sebagian besar berujung pada kasus perdagangan
manusia.
Di sisi lain, di keluarganya Andy mendapatkan suasana yang berbeda.
Tak ada tekanan kepadanya untuk segera menikah. Demikian pula di
pendidikan, dia hanya diminta fokus sekolah tanpa harus memikirkan
jadi juara kelas atau tidak. Andy pun diberi kebebasan memilih masa
depannya, dengan catatan harus selalu melakukan yang terbaik.
Usai menamatkan pendidikan di SMAN 1 Pontianak, Andy memutuskan kuliah
di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Hubungan
Internasional. Bisa dimaklumi, karena sejak awal Andy memang
bercita-cita menjadi diplomat. Namun, dia tetap memiliki keresahan
terhadap nasib perempuan di kota kelahirannya.
Keresahan itu pula yang kemudian diangkat menjadi judul skripsi dengan
tema pengalaman perkawinan transnasional perempuan Pontianak. Kendati
dianggap kurang relevan dengan jurusan yang diambil, dia tetap kukuh
dengan niatnya. Namun Andy diharuskan mencari pembimbing dari luar
kampus yang akhirnya menjadi pintu dan perkenalan dengan Komnas
Perempuan.
Sembari melakukan penelitian, Andy terus memantau aktivitas yang ada
di lembaga tersebut. Pada saat itu, Komnas Perempuan belum memiliki
lembaga perlindungan saksi dan korban. Sehingga, banyak perempuan
korban peristiwa-peristiwa besar tidak bisa melapor ke Komnas
Perempuan. Hal ini membuat Andy makin tertarik menggeluti hal yang
berkaitan dengan masalah perlindungan terhadap perempuan.
Usai meraih gelar sarjana dari kampusnya, Andy sudah melupakan
cita-citanya menjadi diplomat dan memutuskan bergabung dengan Komnas
Perempuan sejak tahun 2000. Pada periode ini pula Andy menamatkan
pendidikan S2 pada Program Media and Communications, Goldsmith
College, University of London, Inggris (2014) serta menjadi dosen
Gender dan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia
(2006-2018).
Sepuluh tahun kemudian Andy terpilih menjadi Komisioner Komnas
Perempuan periode 2010-2014. Andy pun makin intens memantau dan
mendokumentasikan kekerasan terhadap perempuan serta mengadvokasi
persoalan hak-hak perempuan di tingkat lokal, nasional juga global.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Komisioner Komnas Perempuan
pada 2014, Andy memutuskan rehat sejenak dari lembaga itu, namun bukan
berhenti dari aktivitas mengadvokasi hak-hak perempuan.
Dia antara lain menjadi Koordinator Asia Pacific Women’s Alliance on
Peace and Security (APWAPS) pada 2014-2018 yang antara lain mendirikan
Sekolah CERLANG, sekolah usia dini di Pontianak yang menggunakan
pendekatan pendidikan kritis dan kebangsaan.
Andy juga aktif menggagas inisiatif merawat kebhinekaan, demokrasi,
dan perdamaian lewat Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) pada
2015-2018 di Kalimantan Barat, yang bergerak di bidang penelitian dan
pendidikan publik, termasuk melalui pengembangan pendidikan usia dini.
Andy juga mengembangkan inisiatif untuk penelitian dan pengkajian
lewat Perkumpulan Rukun/Lingkar Bestari di Jakarta, yang bergerak di
bidang penelitian dan pendidikan publik, termasuk melalui pengembangan
pendidikan usia dini.
Selain itu, berbagai tulisannya berkaitan dengan situasi HAM di
Indonesia, utamanya dalam hal pemenuhan hak asasi perempuan,
diterbitkan di dalam maupun luar negeri. Puncaknya adalah ketika Andy
akhirnya kembali ke Komnas Perempuan dan menjabat sebagai Ketua Komnas
Perempuan periode 2020-2024.
Dengan posisi yang sekarang, apa lagi langkah yang akan dilkakukan
Andy dalam upayanya melindungi hak-hak perempuan Indonesia? Berikut
petikan wawancara Ratu Annisaa Suryasumirat dengan Andy Yentriyani
dalam program Bincang Liputan6.(red-1)
