Grobogan, hariandialog.co.id – Petani Grobogan khususnya di wilayah kecamatan Godong, Penawangan dan Karangrayung serta sekitarnya saat ini sedang menjerit lantaran hasil panen musim tanam (MT II) hasilnya sangat anjlok bahkan boleh dibilang terjun bebas sebab anjloknya lebih dari 50 persen. Hal ini disebabkan lantaran diserang penyakit putih.
Berdasarkan pantauan Dialog di lapangan yakni di beberapa petani di Penawangan, juga Kades Winong (Penawangan), petani di Karanggeneng (Godong), beberapa perangkat desa di Werdoyo (Godong), semuanya pada sedih dan prihatin lantaran hasil pertanian anjlok hingga kurang lebih 40 – 60 persen. Bahkan ada yang bilang sudah jatuh tertimpa tangga (sedang panen, gagal panen lagi).
Beberapa petani di Godong mengatakan kalau dihitung hasil gabah berkurangnya kurang lebih 30 – 50 persen, dan harganya sangat anjlok lantaran pembeli luar kota jarang ada lantaran padinya kurang bagus dan kendala perjalanan pandemi banyak kota yang ditutup sehingga daya beli sangat berkurang.
Beberapa petani Werdoyo (Godong) bahwa kalau dihitung per bau bila normal 4 – 5 ton (biasanya), sekarang turun menjadi 3 – 3,5 ton. Hal ini bisa terjadi karena kekurangan pupuk masih menjadi kendala, para petani berharap Pemkab Grobogan saatnya memikirkan untuk membeli gabah petani dengan harga standart, ketersediaan pupuk terpenuhi dan bila perlu dibantu obat-obatan sehingga ke depan hasilnya dapat meningkat.
Sementara beberapa petani di Godong biasanya kalau normal per bau bisa laku antara Rp. 15 juta – Rp. 20 juta, tapi sekrang hanya laku Rp. 6 juta per bau bahkan ada yang lebih parah lagi. Untuk itu petani berharap beberapa isntansi terkait untuk memikirkan masalah terebut, instansi yang dimaksud antara lain adalah dinas pertanian, dinas ketahanan pangan, serta komisi B DPRD Grobogan yang membidangi masalah ekonomi.
Bagaimanakah langkah dan tanggapan ketiga instansi tersebut diatas, yakni Dipertan, Dinas Ketahanan Pangan dan Komisi B DPRD Grobogan, tunggu terbitan berikutnya. (Sul/Sub)
