Jakarta, hariandialog.co.id.– Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dari
Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Ni Luh Putu
Pitawati, mengungkap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membagi
lima kelompok dalam kasus cacar monyet. Salah satunya suspek yang
mengalami ruam kulit, demam, dan pembesaran kelenjar getah bening.
“Kemenkes menyampaikan telah membagi lima kelompok (dalam kasus cacar
monyet). Yaitu suspek bila pasien mengalami ruam kulit yang tidak bisa
dijelaskan,” ujarnya, Selasa (09-08-2022).
Dia menambahkan, kelompok suspek juga mengalami demam di
atas 38 derajat Celcius. Selain itu disertai dengan pembesaran
kelenjar getah bening yang bisa ditemukan di lipat belakang kepala
atau ketiak. Pasien juga disertai gejala nyeri kepala kemudian pegal
di seluruh tubuh serta pelemahan tubuh.
Kemudian, kelompok kedua adalah probable jika seseorang
sudah memenuhi kriteria suspek dan disertai penambahan kriteria kontak
langsung dengan pasien yang terkonfirmasi cacar monyet. Contohnya
pelaku perjalanan ke negara endemis cacar monyet dan memang dirawat
karena infeksi cacar monyet.
Kemudian, ia menyebutkan kelompok ketiga adalah pasien yang
terkonfirmasi yang memenuhi kriteria suspek atau probable dan
dikuatkan dengan hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR)
dari lesi dan nasofaring kemudian hasilnya positif. Kemudian, kelompok
keempat adalah discarded yaitu pasien yang suspek dan setelah
dilakukan pemeriksaan PCR ternyata hasilnya negatif. “Terakhir atau
kelima adalah kelompok kontak erat yang memang terkonfirmasi, ada
kontak erat dengan pasien positif cacar monyet, baik kontak kulit,
kontak tatap muka tanpa (menggunakan) alat pelindung diri (APD),”
katanya seperti ditulis republika.
Ia menjelaskan, sebenarnya cacar monyet seperti penyakit
lain yang bisa sembuh sendiri. Jadi, orang-orang yang kondisi tubuhnya
fit akan terjadi proses penyembuhan infeksi yang bisa sembuh sendiri.
Namun, pada kelompok tertentu yang terjadi penurunan sistem kekebalan
tubuh, baik karena infeksi atau karena terapi. “Kemudian pada ibu
hamil dan anak-anak atau lanjut usia (lansia) yang termasuk kelompok
mengalami penurunan kekebalan menjadi perlu dipantau bila terinfeksi
cacar monyet,” ujarnya.
Ia menambahkan, cacar monyet menjadi darurat kesehatan
global sejak Mei 2022 karena banyak kasus cacar monyet di Inggris dan
Amerika Serikat. Tercatat per Juli 2022 ada 88 negara yang melaporkan
kasus cacar monyet di negaranya. Artinya, negara yang melaporkan cacar
monyet bertambah sejak Juli 2022. “Sehingga, itu yang melandasi
organisasi kesehatan dunia PBB (WHO) yang melihat cacar monyet perlu
diwaspadai dan perlu untuk mendapatkan penanganan agar tidak terjadi
penularan lebih lanjut,” katanya. (pitta)
