Jakarta, hariandialog.co.id.- Masyarakat khususnya yang
berpenghasilan rendah danatau serabutan harus bersiap-siap makan
‘singkong’. Pasalnya, masyarakat dengan penghasilan pas-pasan sudah
tidak akan mampu membeli beras karena mahal. “Yah, kita sudah
membayangkan di rumah dengan tiga orang anak dan satu istri siap-siap
makan singkong,” kata salah seorang supir taxi di Bandara Soekarno
Hatta, Cengkareng Banten, kemarin (28-02-2024).
Menurut supir taxi yang asalnya dari Indramayu, Jawa
Barat itu, sudah mendapat informasi dari istrinya bahwa beras mahal.
“Saya mendapat telepon minggu lalu dengan kiriman sebulan hanya 3 juta
rupiah berat untuk bisa membeli beras yang biasa. Istri mengeluh
karena bukan hanya beras yang mahal tapi juga cabe. Bahkan, istri saya
mengatakan siap jadi TKW demi anak yang masih sekolah,” kata Deden
yang mengaku pulang sekali sebulan melihat keluarga di kampung.
Deden mengaku bukan hanya dia yang merasakan kenaikan
harga beras tapi juga teman-temannyasesama supir taxi. “Kita kalau
malam ngumpul di mes yang disiapkan perusahaan, sama keluhannya dengan
menceritakan kisah masing-masing. Semua teman teman pada ngedumel akan
mahalnya beras. Dan semua mengaku pasrah dengan keadaan dan paling
pahit makan dengan singkong di rebus dan tumbuk atau dijadikan tiwul,”
ungkap Deden menceritakan rencana temannya Tono asal Bumiayu, Brebes.
Deden menceritakan, hidup sudah semakin susah dan
harus dijalani. Doa dan ikhtiar sudah dilakukan setiap hari, tapi
harga beras dansembako pendukung lainnya toh tidak ada perubahan untuk
lebih murah dan malah naik dan naik terus. “Kalau saya dan beberapa
teman-teman tidak terlalu berharap sekali dengan bantuan beras dari
pemerintah. Pasalnya tidak pernah dapat pembagian. Dan sudahlah,
apalagi sebentar lagi mau ramadhan lanjut lebaran, sudah pasrah dengan
kondisi sekarang ini,” katanya dan mengeluh karena penumpang juga
semakin berkurang.
Sementara itu, harga beras di Pasar Minggu yang biasa
merek Anak Kembar yang 10 Kilogram sebulan lalu hanya Rp.147 ribu
sekarang sudah Rp. 172 ribu. Beras Kepala yang biasa dibeli para
pedagang Warteg satu karung besar biasa Rp.670 ribu sekarang diharagai
Rp.800 ribu. Beras merek IDOLA yang 10 kilogram atau karung sedang
Rp.185 ribu yang biasa sebulan lalu masihRp.160 ribu. Begitu juga
harga cabe rawit merah alias cabe cablai per kilogramnya sudah Rp.100
ribu. “Kita beli palign sedikit Rp.10 ribu dan itupun 10 biji,” kata
Rizka warga Pondok Labu, Jakarta Selatan mengeluhkan mahalnya harga
harga padahal lebaran masih lama. (tim)>
