
Majalengka, harian dialog. Ruas Jalan Provinsi Jawa Barat yang menghubungkan Kecamatan Bantarujeg–Talaga terputus total akibat pergerakan tanah besar yang terjadi pada Senin (17/11) sekitar pukul 19.00 WIB. Insiden ini membuat arus lalu lintas lumpuh sepenuhnya dan memaksa warga mencari jalur alternatif.
Pergerakan tanah terjadi di beberapa titik vital, di antaranya Desa Cikidang, Cinambo, Silihwangi, hingga Salawangi. Di lokasi tersebut, kondisi jalan terlihat rusak berat: badan jalan amblas hingga lebih dari setengah meter, retakan memanjang melintasi aspal, dan sebagian ruas bahkan terputus total.
Foto dan video yang direkam warga dan diunggah ke media sosial memperlihatkan visual yang mengkhawatirkan—aspal terangkat, tanah bergeser, dan beberapa bagian jalan tampak menggantung tanpa penyangga yang aman.
“Saat melintas di daerah Cikidang–Cinambo, saya lihat jalan sudah rusak parah dan tidak bisa dilewati. Banyak retakan besar,” ungkap seorang warga Desa Cipeundeuy yang sempat melintas sebelum area sepenuhnya ditutup.
Melihat kondisi jalan yang sangat berbahaya, petugas UPTD PUTR Kabupaten Majalengka segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan awal. Petugas kemudian memasang rambu larangan melintas serta menutup total akses untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Dalam imbauan resmi, pihak UPTD menegaskan bahwa kondisi jalan saat ini sangat tidak aman, mengingat pergerakan tanah masih berpotensi berlanjut.
“Akses jalan yang menghubungkan Kecamatan Bantarujeg dan Talaga untuk sementara dinyatakan lumpuh total. Masyarakat diminta tidak memaksakan diri melintas dan segera menggunakan jalur alternatif,” tegas petugas UPTD.
Ruas jalan ini selama bertahun-tahun menjadi jalur utama mobilitas warga, terutama bagi mereka yang bekerja atau berdagang antara wilayah Bantarujeg, Talaga, dan pusat Kabupaten Majalengka. Terputusnya akses membuat sebagian warga harus menempuh perjalanan lebih jauh melalui jalur alternatif yang memakan waktu tambahan hingga berjam-jam.
Selain itu, distribusi barang kebutuhan pokok, hasil pertanian, dan pergerakan ekonomi masyarakat diperkirakan ikut terganggu.
Hingga kini, petugas belum dapat memastikan penyebab utama pergerakan tanah. Namun sejumlah faktor disebut berperan, seperti intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir serta kondisi tanah di kawasan perbukitan yang memang rawan longsor.
Tim teknis dari dinas terkait dijadwalkan melakukan survei mendalam untuk menentukan langkah penanganan, mulai dari penanganan darurat hingga opsi rekonstruksi jalan.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati, mengingat potensi longsor susulan masih ada. Warga diminta menghindari area terdampak dan melaporkan segera jika menemukan tanda-tanda pergerakan tanah di wilayah sekitar.
Sementara itu, upaya penanganan darurat sudah mulai disiapkan, namun proses perbaikan diperkirakan memerlukan waktu lama karena skala kerusakan yang cukup besar.(Ayub)
