
Bandung Barat, hariandialog.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terpaksa terhenti setelah dana belanja senilai 1 miliar Rupiah dilaporkan hilang. Sementara, dapur produksi yang selama ini memasok MBG ke delapan sekolah penerima manfaat program MBG harus hentikan sementara.
Hendrik Irawan”selaku owner mitra SPPG Pangauban Batujajar, mengaku kecewa dan prihatin dengan kondisi ini. Ia mengatakan belum sempat merasakan keuntungan dari program MBG karena baru delapan hari beroperasi sebelum dana raib dan kegiatan dihentikan.

Saya belum sempat mendapat keuntungan apapun, dapur sudah ditutup karena dana 1 Miliar Rupiah hilang. Semua kembali pada kebijakan pemerintah. 8 sekolah penerima manfaat di wilayah Pangauban sementara 3400 Siswa/1 dengan total sekitar 8.000 siswa belum menerima Makan Bergizi Geratis ( MBG ) ,Mereka kini kehilangan program MBG yg biasa di dapatkan setiap harinya’Ujar Hendrik pada hari rabu ( 6/11/2025) di kantor SPPG Pangauban.
Hendrik berharap’ Pemerintah Pusat memberikan suntikan dana darurat ,agar dapur SPPG Pangauban Batujajar bisa kembali beroperasi. Saya mohon kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk membantu kelanjutan program ini. Program MBG sangat baik untuk anak-anak sekolah, dan kami siap kembali bekerja jika ada dukungan dana.
Hendrik menyebut, untuk menghidupkan kembali dapur MBG Pangauban, dibutuhkan operasional minimal Rp. 32,000,000/hari, atau sekitar Rp60–70 juta per hari agar dapur bisa berjalan stabil. Kalau dihitung, selama dua minggu operasional, total dana yang dibutuhkan sekitar Rp.400,000,000.
Selain itu, ia mengaku telah mengeluarkan Rp3,6 miliar untuk pembangunan dapur SPPG Pangauban. Namun hingga kini belum memperoleh keuntungan, justru terhenti karena kasus kehilangan dana yang diduga dilakukan oleh pihak internal.

“Hendrik menuturkan, Jujur belum balik modal. Tapi yang paling penting bagi saya bukan soal keuntungan, melainkan keberlangsungan program untuk anak-anak sekolah, koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) sejauh ini belum menghasilkan keputusan konkret. BGN disebut masih menunggu hasil proses hukum yang kini tengah ditangani Bareskrim Polri.
Dari BGN belum ada langkah signifikan. Mereka masih menunggu hasil penyelidikan. Akibatnya, kami bingung kapan dapur bisa beroperasi kembali. Meski sempat berniat menalangi dana agar program tetap berjalan, Hendrik mengaku tidak diperbolehkan oleh pihak BGN untuk menggunakan dana pribadi.
“Saya sebenarnya siap menalangi biaya seminggu atau dua minggu, tapi BGN melarang. Padahal niat saya hanya ingin agar anak-anak tetap mendapatkan program MBG Ini juga bentuk ibadah saya,” imbuhnya.
Selain itu, Hendrik pun menegaskan, dirinya siap kembali beroperasi kapan pun jika pemerintah atau BGN memberi izin untuk menalangi sementara dana MBG. Kalau BGN memberi sinyal boleh pakai dana sendiri, saya langsung gaspol. Saya ingin bantu program Presiden Prabowo karena saya percaya ini program untuk masa depan anak bangsa merupakan salah satu prioritas Nasional Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan asupan gizi. (NAGON)
