Jakarta, hariandialog.co.id.– Implementasi program mandatori B50 diperkirakan mengurangi volume ekspor CPO Indonesia pada 2026. Kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) di dalam negeri meningkat signifikan untuk memenuhi bahan baku biodiesel, sementara produksi sawit nasional diproyeksikan hanya tumbuh kurang dari 2 persen.
Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Lolita Bangun, mengatakan peningkatan konsumsi domestik berpotensi mengalihkan sebagian pasokan yang sebelumnya ditujukan ke pasar ekspor.
Menurut Lolita, pertumbuhan produksi CPO nasional masih tertahan akibat sejumlah faktor. Dampak El Niño sejak Mei 2026, menurunnya produktivitas tanaman, serta program peremajaan (replanting) kebun sawit menjadi penyebab utama produksi belum meningkat signifikan.
Di sisi lain, pemberlakuan program B50 sejak Juli 2026 diperkirakan menambah kebutuhan CPO domestik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan saat implementasi B40. “Total kebutuhan CPO untuk B50 diperkirakan mencapai sekitar 14,6 juta ton. Kebutuhan itu masih dapat dipenuhi, tetapi berpotensi mengurangi volume ekspor,” ujar Lolita, Minggu, 2 -08 -2026.
Kombinasi pertumbuhan produksi yang terbatas dan meningkatnya konsumsi domestik diperkirakan membuat pasokan untuk pasar internasional semakin ketat. Kondisi tersebut juga dinilai akan menjaga harga CPO tetap tinggi setelah rata-rata mencapai USD 1.432 per metrik ton pada semester pertama 2026.
Berdasarkan Kementerian ESDM, pemerintah menerapkan skema transisi B40 pada semester I 2026 dan B50 pada semester II 2026 dengan total alokasi biodiesel sepanjang tahun mencapai sekitar 17,6 juta kiloliter (kL). Hingga 13 April 2026, realisasi penyaluran biodiesel telah mencapai 3,90 juta kL atau 24,9 persen dari target tahunan. Program tersebut didukung 26 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN), 32 Badan Usaha BBM, serta 85 titik serah di seluruh Indonesia untuk menjamin kelancaran distribusi, tulis ontianakpst. (udin-01)
