Kabupaten Bandung, hariandialog.co.id.- Serangan Israel terhadap
Palestina yang menimbulkan korban jiwa memantik perhatian warga dunia.
Dukungan pun mengalir termasuk dari para santri di Bandung.
Seruan dukungan itu bersuara dari santri Madrasah Aliyah
yang berada di lingkungan Pesantren Husainiyah, Kecamatan Cicalengka,
Kabupaten Bandung, Selasa (24/10/2023). Para santri menulis harapan
dan dukungan bagi Palestina melalui secarik kertas. Kepedulian
tersebut dilakukan atas banyaknya korban yang menimpa rakyat
Palestina.
Para santri juga melakukan aksi teatrikal, puisi dan
melakukan aksi tanda tangan petisi atas isu-isu santri dan pelajar
tentang bullying, kekerasan seksual, diskriminasi pendidikan, yang
kerap terjadi di berbagai pesantren dan sekolah.
Aksi para santri tersebut dilakukan sebagai bentuk gerakan
Hari Santri Nasional 2023 dengan tema Suara Santri Untuk Negeri. Para
santri tersebut nampak antusias dan lantang menyuarakan isu-isu
tersebut.
Salah satu santri, Salwa Zulfathunisa merasa tergerak
hatinya usai konflik Palestina dan Israel. Dia melihat tak ada
keadilan dalam konflik itu. “Saya melihat gak adil konflik Palestina.
Israel teh harusnya mah pergi. Gak ada hak asasi manusia pisan,” kata
Salwa.
Santri lainnya, Nazhan, juga merasakan hal sama. Dia
menginginkan rakyat Palestina bisa hidup dengan aman dan nyaman.
Sehingga kemerdekaan bagi rakyat Palestina harus digaungkan.
Dukungan santri Bandung untuk warga Palestina Foto: Yuga Hassani/detikJabar
“Kita gak boleh merebut hak asasi manusia. Harusnya mereka bisa hidup
nyaman di Palestina. Mungkin dia (Israel) serakah dan ingin merebut
semuanya Palestina,” katanya.
Nazhan juga berbicara soal isu lainnya. Salah satunya perihal bullying
di lingkungan pendidikan.
:”Bullying itu seolah-olah derajatnya rendah, padahal mah sama-sama
dimata Tuhan. Kita punya hak kebebasan. Mungkin dibully karena selera,
kan gak bisa nyamain selera. Terus kalau soal fisik, kan udah
diciptakan sama Tuhan,” kata dia.
Kepala Sekolah Madrasah Tita Tabiya Tourisia mengungkapkan adanya hari
santri nasional bisa menjadikan momentum sebagai kekuatan persatuan.
Sehingga tidak hanya dijadikan sebagai perayaan setiap tahunnya.
“Ini momentum yang bagus. Saya ingin hari santri kembali kepada
fitrahnya. Kebelakang suara santri ini menjadi suatu kekuatan. Ada
resolusi jihad untuk mempertahankan negara. Sama halnya dilakukan para
santri di masa lalu, ulama, ustad, dan ustadzah,” kata Tita tulis
dtcjbr.
Tita menginginkan para santri mempunyai daya panggil dan suara yang
harus didengar oleh masyarakat. Soalnya para santri saat ini kelak
akan memimpin bangsa yang akan datang.
“Kami ingin membuat mereka aware mempunyai daya panggil dan suara yang
didengar. Harus ditanamkan mereka yang akan meneruskan ini. Mewariskan
ini di tangan mereka,” bebernya.
Dukungan santri Bandung untuk warga Palestina Foto: Yuga Hassani/detikJabar
Menurutnya para santri harus peduli dengan isu-isu sosial dan
lingkungan. Hal tersebut akan lebih bermanfaat bagi masyarakat.
“Jadi diangkat isu ini, terlebih isu palestina. Ini persoalan HAM, apa
yang terjadi di Palestina betul-betul menyentak nurani. Tidak hanya
saudara yang terzalimi, tapi orang-orang Israel sipil. Kalau fokus ke
kemanusiaan itu jadi konsern kita. Memang ada kepentingan negara, tapi
itu harus dikesampingkan,” tegasnya. (halim).
