Denpasar, hariandialog.co.id – Bupati Baung Nyoman Giri Prasta merespon cepat foto tebing retak di kawasan Pura Luhur
Uluwatu Pecatu yang beredar di media sosial, ia sudah menunjuk tim teknis melakukan
pengecekan ke lapangan dan meminta agar segera menindaklanjuti berupa perbaikan retakan,
penguatan dan penataan secara konkret untuk mengantisipasi terjadinya abrasi tebing kawasan
Pura yang terletak di ujung selatan Kabupaten Badung ini .
“Saya sudah menunjuk tim teknis untuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Saya
juga perintahkan agar ini segera ditindaklanjuti, dengan menyiapkan masterplan untuk
memperbaiki retakan, menguatkan dan menata tebing Pura Luhur Uluwatu dengan
menggunakan dana APBD Badung,harus kita lakukan untuk mengantisipasi terjadinya abrasi,”
tegas Bupati Giri Prasta di Puspem Badung, Jumat (8/9)
Selaku Kepala Pemerintahan Kabupaten Badung, Giri Prasta akan terus berupaya secara
maksimal menyelamatkan warisan budaya yang sangat disakralkan oleh masyarakat Pulau
Dewata itu. “Pura Luhur Uluwatu selain sebagai daya tarik wisata, juga merupakan tempat
Sembahyang yang sakral dan warisan budaya yang harus dilestarikan. Jadi kami akan
seoptimal mungkin untuk melakukan upaya penyelamatan,” tegasnya.
Sebelumnya Badan Meteorologi dan Geofisika menginformasikan, penyebab utama abrasi
tebing di Uluwatu adalah perubahan kecepatan angin dan badai siklon tropis. Kecepatan angin
terus bertambah, biasanya hanya 35 kilometer per jam, kini menjadi 60-80 kilometer per jam.
Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat
hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.
Di kutif dari dari id.m.wikipedia.org, menyebutkan, Pura yang terletak di ujung barat
daya pulau Bali di atas anjungan batu karang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut,
merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari
9 mata angin . Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci
dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala
aturannya.
Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha,
yang datang ke Bali akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang
dinamakan Moksa atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur
Uluwatu.
Pura Uluwatu, terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali
digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar , bahkan event internasional sering kali
diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat selancar selain keindahan alam Bali lainnya. (rls/nani)
