
BATU BARA, hariandialog.co.id – Lapangan Tanjung Gading di Kompleks PT Inalum berubah jadi lautan semangat. Ratusan peserta dari Forkopimda, ASN, pelajar, hingga tokoh masyarakat tegak berdiri memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118, Rabu (20/05).
Di tengah barisan itu, rombongan Pujakesuma Kabupaten Batu Bara ikut ambil bagian, menegaskan bahwa paguyuban tak hanya urusan budaya, tapi juga urusan menjaga Indonesia.
Tema tahun ini menohok langsung ke dada anak muda: “Memanggil dan Mengajak Pemuda untuk Bangkit Demi Menjaga Kedaulatan NKRI dan Wibawa Bangsa”. Bukan sekadar seremonial. Amanat yang dibacakan Wakil Bupati Batu Bara Syafrizal selaku pimpinan upacara mengingatkan bahwa tantangan hari ini beda dengan 1908.
Musuh kedaulatan kini tak selalu bersenjata, tapi bisa berbentuk disinformasi, lunturnya gotong royong, dan tipisnya rasa bangga jadi orang Indonesia. Tugas pemuda: lawan itu semua dengan karya dan persatuan.
Pujakesuma datang membawa komitmen, Meski Ketua berhalangan dan diwakili asisten pribadi Ferry, kehadiran Sekjen Pelda Rohimin dan delegasi dari Kecamatan Sei Suka sudah cukup bicara. Mereka bukan tamu. Mereka bagian dari ikhtiar kolektif. Bagi Pujakesuma, merawat kebangsaan artinya turun langsung, berdiri di lapangan, panas-panasan bersama rakyat.
Upacara selesai, tapi pesannya tidak. Gema “bangkit” dari Tanjung Gading harus dibawa pulang ke kampung, ke warung, ke sekolah, ke ladang. Karena menjaga wibawa bangsa tak butuh podium besar.
Cukup dimulai dari yang kecil, pemuda yang mau peduli, paguyuban yang mau bergerak, dan daerah yang kompak menjaga Indonesia tetap tegak.
(Khairul Amri)
