
Ngamprah, Bandung Barat- 20 Mei 2026 – Pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung Barat kian mendekati titik kritis. Volume timbulan mencapai ratusan ton per hari, sementara kapasitas TPA Sarimukti kian penuh. Perubahan pola penanganan dari hulu, yakni rumah tangga, jadi mendesak.
Hal itu mengemuka dalam Forum Pengawasan Penyelenggara Pemerintahan Daerah TA 2026 di Aula Yayasan Bandung Barat Sejahtera, Ngamprah, Rabu 20 Mei 2026. Hadir pimpinan DPRD KBB, Dinas Lingkungan Hidup, dan 70 penggiat lingkungan dari desa se-Kecamatan Ngamprah.
Anggaran Besar, Target Harus Tuntas
Ketua DPRD KBB Muhammad Mahdi menyebut sampah sudah jadi konsentrasi Presiden Prabowo. Anggaran pusat untuk KBB cukup besar, tapi ada syarat ketat.
“Jika penanganan tidak selesai sampai Desember, bantuan ke depan bisa ditangguhkan,” tegas Mahdi.
Komitmen pusat terlihat dari kenaikan anggaran KLH/BPLH 2026 hampir 29%, dari Rp1,083 triliun menjadi Rp1,396 triliun. Mahdi mendorong desa mengubah cara pandang: sampah harus dikelola mandiri agar ketergantungan pada TPA berkurang.

“Sampah harusnya dimulai dari rumah. Kalau dipilah benar, punya nilai ekonomi dan bisa jadi pendapatan warga,” katanya.
Produksi 650 Ton/Hari, Baru 160 Ton Tertangani
Data DLH KBB mencatat timbulan sampah 650 ton per hari dari 1,9 juta jiwa atau 647.592 keluarga. Rata-rata 0,362 kg per orang per hari. Kapasitas layanan masih terbatas.
Ahli Muda Pengendali Dampak Lingkungan DLH KBB Irfan Arfianto dan Ahli Muda Analis Kebijakan Hindun Wahidah merinci, yang bisa ditangani langsung baru 160 ton/hari. Rata-rata yang diangkut ke TPA Sarimukti 139 ton/hari.
Sepanjang tahun, total sampah tertangani 138.354 ton. Sektor informal mengelola 58.038 ton, pengangkutan ke TPA 50.707 ton, TPS3R 15.198 ton, insinerasi termal 7.537 ton, dan bank sampah 6.872 ton. Sisanya masih ditangani mandiri warga.
Armada Terbatas, Fokus ke Bank Sampah
Keterbatasan armada dan anggaran jadi tantangan. Saat ini DLH baru melayani 10 dari 16 kecamatan dengan 33 truk sampah. Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab menggalakkan program Satu Desa Satu Bank Sampah. Kini sudah terbentuk 70 bank sampah se-KBB.
Penggiat lingkungan Ngamprah, Agus Nurjaman, menyebut penumpukan di Sarimukti sudah melebihi kapasitas. Ia mendorong edukasi massal untuk mengikis sikap Not In My Back Yard.
“Masyarakat perlu didampingi agar paham pemilahan sejak dari dapur. Beban sampah ke TPA bisa berkurang drastis dan punya nilai manfaat baru,” ujarnya. (Nagon)
